Komentar Dan Saranmu

Terimakasih telah berkunjung di sini, mudah-mudahan bog ini bermanfaat khusus buat kami, umumnya buat temen-temen ikhwan maupun akhwat.

Jangan Lupa setelah Mengunjungi Blog ini sekirannya dapat memberikan komentar dan saran sebagai bahan perbaikan kedepannya.

tetap semangat, tetap istiqomah di jalan Allah.

Wassalamualaikum

72 responses to this post.

  1. Posted by Tritani. Anwar on 26 November 2008 at 5:18 AM

    NAMA : Tritani. Anwar (0801630)
    KELAS : 1 A

    komentar :
    tutorial sendiri adalah MKDU dari mata kuliah PAI,awalnya semua itu tuntutan dari mata kuliah, tapi setelah dijalani, cukup menyenangkan karena dalam tutorial sendiri,kita tidak hanya mendengarkan ceramah,terkadang di selingi dengan menonton bareng islami.
    mudah-mudahan ke depannya bisa lebih baik.

    Artikel :

    RAHASIA PUASA

    Puasa selain menahan hawa nafsu,juga mengalirnya pahala bagi kita.
    terdapat rahasia dari puasa :

    1. Menguatkan Jiwa

    Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang
    didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti
    apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu
    merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta
    merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada
    perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha
    untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang
    membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu
    yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini
    manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi
    karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu
    itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt
    sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung
    mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan
    kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang
    artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
    hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya
    sesat berdasarkan ilmu-Nya. (QS 45:23)

    2. Mendidik Kemauan

    Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang
    sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk
    melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala.
    Puasa yang baik akan membuat seseorang terus
    mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang
    untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw
    menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran.

    3. Menyehatkan Badan

    Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik
    dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa
    kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh
    Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para
    dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita
    tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa
    pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan
    dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga
    mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi
    perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga
    untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk
    udara.

    4. Mengenal Nilai Kenikmatan

    Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh
    memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah
    diperolehnya, tapi juga disuruh merasaakan langsung betapa
    besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita.
    Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan
    minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan
    pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat
    dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk
    air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik
    kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah
    berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai
    bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah
    meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa
    syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak,
    baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya,

    5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain

    Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada
    kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang
    lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan
    akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara
    penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari
    sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan
    rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang
    mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum
    teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di
    Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di
    Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia
    lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan
    sebagainya.

    Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu,
    sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk
    menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap
    kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang
    menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan
    orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang
    mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran
    jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta,
    kikir dan sebagainya.

  2. Posted by Dea Ratna Anggraini on 26 November 2008 at 5:45 AM

    Nama : Dea Ratna Anggraini
    Kelas : 1 A
    NIM : 0804711

    Komentar :
    Program tutorial ini cukup menyenangkan karena di dalamnya terdapat ilmu ilmu yang sangat bermanfaat,tutorial juga tidak membosankan karena pematerinya sangat atraktif dalam menyajikan materi juga di selingi dengan acara nonton bareng yang dapat mencairkan suasana.

    Artikel :

    Hukum shalat dapat dikategorisasikan sebagai berikut :

    * Fardhu, Shalat fardhu ialah shalat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Shalat Fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu :
    o Fardhu ‘Ain : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti shalat lima waktu, dan shalat jum’at(Fardhu ‘Ain untuk pria).
    o Fardhu Kifayah : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Seperti shalat jenazah.
    * Nafilah (shalat sunnat),Shalat Nafilah adalah shalat-shalat yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Shalat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu
    o Nafil Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti shalat dua hari raya, shalat sunnat witr dan shalat sunnat thawaf.
    o Nafil Ghairu Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti shalat sunnat Rawatib dan shalat sunnat yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti shalat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).

    Rukun Shalat

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Shalat

    11 Rukun Shalat :

    1. Niat
    2. Takbiratul ihram
    3. Berdiri bagi yang sanggup
    4. Membaca surat Al Fatihah
    5. Ruku’ dengan thu’maninah
    6. I’tidal dengan thu’maninah
    7. Sujud dua kali dengan thu’maninah
    8. Duduk antara dua sujud dengan thu’maninah
    9. Duduk dengan thu’maninah serta membaca tasyahud akhir dan shalawat nabi
    10. Membaca salam
    11. Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

    Shalat Berjama’ah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Shalat Berjama’ah

    Shalat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama(berjama’ah). Pada shalat berjama’ah seseorang yang dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai Imam Shalat, dan yang lain akan berlaku sebagai Makmum.

    * Shalat yang dapat dilakukan secara berjama’ah antara lain :
    o Shalat Fardhu
    o Shalat Tarawih

    * Shalat yang mesti dilakukan berjama’ah antara lain:
    o Shalat Jum’at
    o Shalat Hari Raya (Ied)
    o Shalat Istisqa’

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Shalat Wajib

    yaitu shalat yang tidak wajib berjamaah tetapi sebaiknya berjamah
    Shalat dalam kondisi khusus

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Safar (perjalanan), Shalat Qashar, dan Shalat Jama’

    Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan shalat diberi keringanan tertentu. Misalkan saat seseorang sakit dan saat berada dalam perjalanan (safar).

    Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia diperbolehkan melakukan shalat dengan posisi duduk, sedangkan bila ia tidak mampu untuk duduk maka ia diperbolehkan shalat dengan berbaring, bila dengan berbaring ia tidak mampu melakukan gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat.

    Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia diperkenankan menggabungkan (jama’) atau meringkas (qashar) shalatnya. Menjama’ shalat berarti menggabungkan dua shalat pada satu waktu yakni dzuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya. Mengqasar shalat berarti meringkas shalat yang tadinya 4 raka’at (dzuhur,ashar,isya) menjadi 2 rakaat.

    Shalat dalam Al Qur’an

    Berikut ini adalah ayat-ayat yang membahas tentang shalat di dalam Al Qur’an, kitab suci agama Islam.

    * Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (QS.Ibrahim :31)14:31
    * Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-‘Ankabut : 45) 29:45
    * Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam: 59)19:59
    * Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (al-Ma’arij : 19-23)70:19

    Sejarah Shalat Fadhu

    Shalat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya adalah Shalat Malam, yaitu sejak diturunkannya Surat al-Muzzammil (73) ayat 1-19. Setelah beberapa lama kemudian, turunlah ayat berikutnya, yaitu ayat 20:

    Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Dengan turunnya ayat ini, hukum Shalat Malam menjadi sunat. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan ulama salaf lainnya berkata mengenai ayat 20 ini, “Sesungguhnya ayat ini menghapus kewajiban Shalat Malam yang mula-mula Allah wajibkan bagi umat Islam.

  3. Posted by IRMILYA JUNITA SARI on 26 November 2008 at 6:35 AM

    Nama : Irmilya Junita Sari
    NIM : 0803292
    Kelas : 1 A

    Komentar tentang program TUTORIAL :
    Tutorial merupakan suatu program yang sangat bermanfaat bagi Para Mahasiswa UPI Kampus Purwakarta, karena pada acaranya kita diberi banyak sekali materi tentang Dunia Islam yang sesungguhnya tidak dipelajari saat jam Kuliah. Namun, saya sangat menyayangkan dengan jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut, mengapa acara pelaksanaannya selalu berubah – ubah ? selalu saja ada perpindahan jadwal. Seharusnya tetap konsisten dengan jadwal yang sudah ditetapkan, yaitu Minggu dan Rabu. Karena jika selalu berpindah – pindah begitu malah menyulitkan kita sebagai Mahasiswa untuk membagi waktu untuk mengerjakan tugas kuliah yang lain. Mohon pertimbangannya !!!

    Artikel Islam :
    TATA CARA PERKAWINAN DAN HUKUM BERPACARAN DALAM ISLAM

    Yazid bin Abdul Qadir Jawas Halaman empat dari empat tulisan,Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahih(sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih -peny), secara singkat penulis sebutkan dan jelaskan seperlunya :
    1. Khitbah (Peminangan) Seorang muslim yang akan mengawini seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi No. 1093 dan Darimi).
    2. Aqad Nikah Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi : a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai. b. Adanya Ijab Qabul. c. Adanya Mahar. d. Adanya Wali. e. Adanya Saksi-saksi.
    Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.
    3. Walimah Walimatul ‘urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    “Artinya : Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 4:154 dan Baihaqi 7:262 dari Abu Hurairah).
    Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin, karena ada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    “Artinya : Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa”. (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim 4:128 dan Ahmad 3:38 dari Abu Sa’id Al-Khudri).

    SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN
    1. Pacaran Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya “Berpacaran” terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).
    Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.
    2. Tukar Cincin Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)
    3. Menuntut Mahar Yang Tinggi Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.
    Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. (Lihat Irwa’ul Ghalil 6, hal. 347-348).
    4. Mengikuti Upacara Adat Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.
    Sungguh sangat ironis…!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    “Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada
    (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. (Al-Maaidah :
    50).
    Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tata cara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
    “Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali-Imran : 85).
    5. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa’ Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.
    Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa’ Wal Banin . ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”. ‘Aqil menjelaskan :
    “Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum”
    (= Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi
    2:134, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain).
    Do’a yang biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah :
    “Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir”
    Do’a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
    ‘Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do’a :
    (Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir ) = Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi 7:148).
    6. Adanya Ikhtilath Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.
    7. Pelanggaran Lain Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar.

  4. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:33 PM

    Nama: Tri astuti wulandari
    Nim : 0803241
    Kelas : 1 A

    Komentar
    Tutorial ini , buat saya sangat menarik dan menyenangkan karena disini saya banyak mendapatkan ilmu dan menambah wawasan, khusus nya ilmu tentang islam ,apalagi setelah kuliah Dhuha diadakan mentoring yang mengajarkan kita dan melatih bicara didepan umum serta menumbuhkan sillaturahmi,tapi menurut saya alangkah lebih baik jangan terlalu rutin sebab membuat kami lama lama bosan.. terima kasih.

  5. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:34 PM

    Nama :Novia Yulianti

    NIM :0801649

    Kelas :1a

    Komentar saya tentang tutorial

    Menurut saya, kegiatan tutorial itu sangat baik bagi kita yang membutuhkan pengetahuan yang banyak tentang islam. Tapi ada kejenuhan dalam mengikuti kegiatan tutorial ini,sebaiknya kegiatan tutorial di buat agak lebih menarik,agar kami tidak merasa bosan dalam mengikuti acara tutorial.

  6. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:35 PM

    Nama : Tritani . Anwar
    kelas : 1 A

    Komentar tutorial :
    tutorial sendiri adalah MKDU dari mata kulah PAI,awalnya semua itu tuntutan dari mata kuliah,tapi setelah dijalani,cukup menyenangkan karena dalam tutorial sendiri,kita tidak hanya mendengarkan ceramah,terkadang di selingi dengan nonton bareng islami.
    mudah-mudahan ke depannya bisa jauh lebih baik.

  7. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:42 PM

    Nama : Irmilya Junita Sari
    NIM : 0803292
    Kelas : 1 A

    Komentar tentang program TUTORIAL :
    Tutorial merupakan suatu program yang sangat bermanfaat bagi Para Mahasiswa UPI Kampus Purwakarta, karena pada acaranya kita diberi banyak sekali materi tentang Dunia Islam yang sesungguhnya tidak dipelajari saat jam Kuliah. Namun, saya sangat menyayangkan dengan jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut, mengapa acara pelaksanaannya selalu berubah – ubah ? selalu saja ada perpindahan jadwal. Seharusnya tetap konsisten dengan jadwal yang sudah ditetapkan, yaitu Minggu dan Rabu. Karena jika selalu berpindah – pindah begitu malah menyulitkan kita sebagai Mahasiswa untuk membagi waktu untuk mengerjakan tugas kuliah yang lain. Mohon pertimbangannya !!!

  8. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:43 PM

    Nama : Dea Ratna Anggraini
    Kelas : 1 A
    NIM : 0804711

    Komentar :
    Program tutorial ini cukup menyenangkan karena di dalamnya terdapat ilmu ilmu yang sangat bermanfaat,tutorial juga tidak membosankan karena pematerinya sangat atraktif dalam menyajikan materi juga di selingi dengan acara nonton bareng yang dapat mencairkan suasana.

  9. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:43 PM

    NAMA : Tritani. Anwar (0801630)
    KELAS : 1 A

    komentar :
    tutorial sendiri adalah MKDU dari mata kuliah PAI,awalnya semua itu tuntutan dari mata kuliah, tapi setelah dijalani, cukup menyenangkan karena dalam tutorial sendiri,kita tidak hanya mendengarkan ceramah,terkadang di selingi dengan menonton bareng islami.
    mudah-mudahan ke depannya bisa lebih baik.

  10. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:43 PM

    Nama : Rigo Tampati
    Kelas : 1B
    NIM : 0803243
    Asaalammua;alaikum Warahmatullahi wabarakatuh……

    komentar:
    alhamdulillahirabbil’alamin.. setelah mengikuti kegitan tutorial ini ada perubahan lah… ya memang sih saya rasa kegiatannya ini terlalu monoton.. hemm kalo bias mah atuh bikim terobosan baru yang bias memikat (aih…aih.. naon muereunan).. nya.. eta lah pokona mah… owh eah.. kalo bias mah atuh jangan terlalu banyak kegiatan tutorialnya…..

    Wassalammualaikum Warah matullahi wavbarakatuh….

  11. Posted by adzanwahiddien on 26 November 2008 at 12:44 PM

    NIa Andini
    1B
    0801639

    Assalammualaikum… Wr, Wb.

    Alhamdullilahirabbil’alamiim.. setelah saya mengikuti kegiatan tutorial ini saya yang tadinya kurang begitu mengerti tentang islam,,,, akan tetapi upi purwakarata telah mengenalkan saya tentang dunia islam lewat tutorial.. sungguh saya sangat merasa senang sekaleeeeee……
    tapi kalo boleh ngasih saran mah yaa.. kegiatan tutorialnya dilaksanakannya hari minggu aja atuh… terus saya harap kegiatan-kegiatan tutorial ini lebih menyenangkan, menarik dan tidak membosankan untuk diikuti…dan lebih bisa membawa perubahan bagi saya pada khusunya dan untuk semua kaum muslimin khususnya….

    Wassalammualaikum… Wr, Wb.

  12. Posted by anilah permana on 27 November 2008 at 3:24 AM

    Anilah Permana
    0803247
    1A

    Assalammualaikum wr wb

    Komentar: tutorial memang kegiatan yang banyak sekali manfaatnya bagi mahasiswa/i.karena dari tutorial ini kita bisa mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat..tp kalau bo;eh ngasih saran kegiatannya jangan terlalu lama dunk,soalnya kita mahasiswa baru juga sibuk sama tugas-tugas kuliah..truz tutorial ngsih tugasnya jangan banyak-banyak..

    Keutamaan wudhu
    Wudhu mungkin bukan sudah menjadi rutinitas para muslim yang senantiasa menunaikan shalat. Akan tetapi sejauh manakah kita mengetahui mengenai hukum dan keutamaan wudhu sebenarnya??
    Wudhu adalah membasuh bagian tertentu yang ditetapkan dari anggota badan dengan air dengan niat membersihkan hadast sebagai persiapan menghadap Allah Ta’ala (mendirikan shalat) [2].
    Dalil yang mewajibkan menunaikan wudhu sebelum shalat adalah :
    1.Dalam Surat Al-Maidah ayat 6, Allah Ta’ala berfirman : “ Wahai orang-orang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai ke siku. Kemudian sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai pada kedua mata kaki.”
    2.Hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
    “Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila kalian berhadast, sehingga dia berwudhu” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

    Keutamaan Wudhu :
    Berwudhu bagi seorang muslim sesungguhnya memilliki banyak keutamaan, sebgaiamana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Beberapa diantara keutamaan wudhu itu adalah :
    1.Bersuci merupakan sebagian dari iman
    Muslim meriwayatkan dari Abu Malik Al-Arasy radiallahuanhu berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bersuci adalah sebagian dari iman”
    (HR. Muslim) [1]
    2.Orang yang berwudhu akan mendapatkan wajah yang bercahaya di akhirat kelak, sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam akan meneganali mereka sebagai umatnya.
    Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Rahimahullah, ia berkata : “aku pernah mendengar kekasihku Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Kemilau cahaya seorang mukmin (kelak pada hari kiamat) sesuai dengan batas basuhan wudhunya.” [1]
    Dari Abu Hurairah radiallahuanhu, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda : “Sungguh umatku kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan (muka dankedua tangannya) kemilau bercahaya karena bekas wudhu. Karenanya, barangsiapa dari kalian yang mampu memperbanyak kemilau cahayanya, hendaklah dia melakukannya (dengan memperlebar basuhan wudhunya)”
    (HR. Bukhari Muslim) [1]
    3.Menggugurkan dosa-dosa kecil serta meninggikan derajat.
    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah akanmenghapuskan dosa-dosa kalian dan meninggikan derajat kalian? Para sahabat menjawab : Mau, ya Rasulullah. Kemudian beliau pun berkata : “Yaitu dengan menyempurnakan wudhu’ dari hal-hal yang bersifat makruh, banyak melangkah menuju masjid dan menunggu waktu shalat setelah shalat (tahiyatul masjid). Yang demikian itu adalah ikatan (perjanjian).” (HR.Muslim) [2]
    Muslim meriwayatkan dari Utsman radiallahuanhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barangsiapa wudhu secara sempurna, maka dosa-dosanya akan gugur dari jasadnya hingga keluar juga dari bawah kukunya”[1]
    4.Menghapuskan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh jasad.
    Dari Abdulla Ash-Shanaji radiallahuanhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda dalam (HR. Imam Malik, An-Nasaai, Ibnu Majah dan Al-Hakim) [6]
    5.Merupakan amal yang mendorong dibukanya pintu syurga bagi yang mengamalkannya.
    Dari Umar radiallahuanhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Tidaklah seseorang dari kalian berwudhu secara sempurna, lalu mengucapkan : Asy-hadu allaa ilaha illallooh wahduu laa syarika lah wa asy-hadu anna MuHammadan ‘abduhu wa rosuuluh (Aku bersaksi bahwa tiada ilah, kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Nya ) melainkan kelak akan dibukakan untuknya 8 pintu syurga yang kepadanya dipersilakan untuk masuk melalui pintu mana saja yang ia sukai” [7]
    Dari berbagai keutamaan yang telah diuraikan di atas perlu digarisbawahi bahwa keutamaan tersebut hanya dimiliki oleh wudhu yang telah sempurna. Kesempurnaan wudhu ini tentu saja dikembalikan kepada syarat ibadah secara mutlak yakni ikhlas karena Allah dan ittiba (mengikuti contoh dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam), sebagaimana sabda beliau dalam sebuah riwayat :
    Muslim meriwayatkan dari Utsman radiallahuanhu, ia berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini, lalu beliau bersabda : ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni, sementara shalat sunnahnya dan perjalanan menuju masjid menjadi penyempurna bagi dihapuskannya dosa-dosanya” [1]
    Karena itu hendaknya seorang mukmin senantiasa menjaga kesempurnaan wudhunya.
    Wallahu’alam Bishowab.

  13. Posted by hermawanti 1B (0806163) on 27 November 2008 at 3:31 AM

    assalamualaikum..
    Alhamdulillah ada media dakwah euy….,sy sudah cukup senang dgn kegiatan2yg tlah ada dan InsyaAllah keberatan dgn masalah waktu, hanya saja kalo boleh usul gimana kalo ketika acara berlangsung pengurus akhwat juga ikut hadir di tengah2 kita supaya kondisi dapat lebih kondusif dan satu lagi kalo boleh usul materi yang disampaikan ada membahas tentang kebersihan karena sy rasa kampus kita khususnya belum mencerminkan sbg lingkungan muslim yang bersih, kan..sudah ada haditsnya tuuh….yuuk kita wujudkan(jadi teori harus dipraktekkan,caranya…?)

  14. Posted by tuti kusmayanti on 27 November 2008 at 3:38 AM

    Nama:tuti kusmayanti
    kelas: IA
    NIM: 0801711

    Assalammualaikum… wr,wb

    program tutorial sebenarnya sangat bermanfaat bagi kita semua, terutama dalam masalah keagamaan.. tapi dengan jadwal tutorial yang terlalu lama membuat saya susah untuk membagi waktu dan kalo saya lagi banyak tugas saya merasa terbebani…. menurut saya kegiatan tutorial sebaiknya di laksanakan hari minggu aja, coz kalo sama hari rabu kayanya kebanyakan dech……………ma’f ya mohon di pertimbangkan….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    wassalammualaikum…wr,wb

    artikel

    Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah

    Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.

    Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.

    Wanita Berbeda Dengan Laki-Laki

    Allah berfirman,

    وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat: 56)

    Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.

    Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeda. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat, dan kondisi masing-masing.

    Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur tubuh, dan susunan anggota badan.

    Allah berfirman,

    وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى

    “Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)

    Karena perbedaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.

    Mujahid meriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kaum laki-laki bisa pergi ke medan perang sedang kami tidak, dan kamipun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?” Maka turunlah ayat yang artinya, “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah…” (Qs. An-Nisaa’: 32)” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lain sebagainya)

    Saudariku, maka hendaklah kita mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Yakinlah, di balik perbedaan ini ada hikmah yang sangat besar, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

  15. Posted by Herlina puspitasari on 27 November 2008 at 4:08 AM

    Nama :Herlina puspitasari
    Kelas:1A
    Nim :0801712
    assalamualaikum…Wr.Wb

    Alhamdullilahirabbil’alamin,,,setelah mengikuti program tutorial saya mendapat banyak pengetahuan tentang islam sehingga saya bisa lebih mencintai islam tapi kalau boleh ngasih saran sebaiknya kegiatan tutorial ini jangan terlalu banyak kegiatanya,cukup hari minggu saja karena kami tingkat 1 masih banyak sekali tugas kuliah.

    HATI-HATI DENGAN BARANG SYUBHAT
    ”Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa berhati-hati dengan yang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjatuh pada syubhat, maka ia telah terjerumus pada yang haram.” (Muslim)
    Kalimat itu diucapkan Nabi Muhammad saw. lebih dari 14 abad silam. Beliau memberi peringatan kepada kita untuk berhati-hati dalam masalah halal dan haram, serta sesuatu yang tidak jelas di antara keduanya. Hal itu menyangkut rezeki yang didapat, makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, nafkah yang diberikan kepada keluarga, dan hal-hal lain yang terkait dengan hidup keseharian kita. Semuanya harus berasal dari yang halal, baik secara hukum maupun secara zat. Allah swt. memerintahkan kita untuk selektif dalam mengkonsumsi segala hal yang menjadi kebutuhan hidup kita.
    “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 168)
    Implikasi mengkonsumsi barang haram sangat signifikan bagi kehidupan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia akan berdampak pada perilaku, akhlak, psikologi, emosi, kesehatan, dan keturunan kita. Sedangkan di akhirat ada dua kemungkinan: masuk surga dengan menikmati segala kenikmatannya, atau neraka dengan menanggung segala siksanya.
    Karena itu tak heran jika Abu Bakar sangat ketat dalam hal ini. Di satu riwayat disebutkan bahwa suatu hari pembantu Abu Bakar datang dengan membawa makanan. Seketika Abu Bakar mengambil dan memakannya. Sang Pembantu berkata, “Wahai Khalifah Rasululillah, biasanya setiap kali aku datang membawa makanan, Anda selalu bertanya dari mana asal makanan yang aku bawa. Kenapa sekarang Anda tidak bertanya?”
    Abu Bakar menjawab, “Sungguh hari ini aku sangat lapar sehingga lupa untuk menanyakan hal itu. Kalau begitu ceritakanlah, dari mana kamu mendapat makanan ini?”
    Si Pembantu menjawab, “Dulu sebelum aku masuk Islam profesiku adalah sebagai dukun. Suatu hari aku pernah diminta salah satu suku untuk membacakan mantra di kampong mereka. Mereka berjanji akan membalas jasaku itu. Pada hari ini aku melewati kampung itu dan kebetulan mereka sedang mengadakan pesta, maka mereka pun menyiapkan makanan untukku sebagai balasan atas jasa perdukunan yang pernah kuberikan.”
    Mendengar itu spontan Abu Bakar memasukkan jari ke kerongkongannya agar bisa muntah. Setelah muntah Abu Bakar berkata, “Jika untuk mengeluarkan makanan itu aku harus menebus dengan nyawa, pasti akan aku lakukan karena aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak ada daging yang tumbuh dari makanan yang haram melainkan neraka layak untuk dirinya’.”
    Begitulah Abu Bakar. Contoh pemimpin yang menjaga dirinya dari hal-hal syubhat.

    Wassalammualaikum…WR,WB

  16. Posted by ITA HARYATI on 27 November 2008 at 4:14 AM

    Nama: ITA HARYATI
    Kelas: 1A
    NIM: 0803246

    Assalammualaikum Wr Wb,

    Alhamdulillahirobbil’alamin………….dengan adanya program tutorial pengetahuan saya tentang Islam semakin bertambah karena dalam acaranya terdapat pemberian materi yang disampaikan oleh pemateri yang tentunya sangat bermanfaat bagi saya. Namun karena terlalu sering, kegiatan tutorial membuat saya menjadi bosan untuk mengikutinya. Saran dari saya, tutorial ini sebaiknya di adakan hanya pada hari minggu saja karena kalau di tambah dengan hari rabu terlalu banyak menyita waktu. Mohon dipertimbangkan saran dari saya. Terima kasih.

    Wassalammualaikum Wr Wb.

    Artikel

    Kepribadian Muslim

    Apa yang terbayang di benak kita ketika berbicara mengenai Kepribadian Muslim? Mungkin ada yang menjawab; Kepribadian muslim itu tercermin pada orang yang rajin menjalankan Islam dari aspek ritual seperti shalat. Ada yang mengatakan kepribadian muslim itu terlihat dari sikap dermawan dan suka menolong orang lain atau aspek sosial. Mungkin ada yang berpendapat kepribadian muslim itu terlihat dari penampilan seseorang yang kalem dan baik hati.

    Jawaban di atas hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

    Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi seseorang sehingga ia dapat disebut berkepribadian muslim, yaitu :
    Salimul ‘Aqidah / ‘Aqidatus Salima (Aqidah yang lurus/selamat)
    Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang lurus, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada ALLAH SWT, dan tidak akan menyimpang dari jalan serta ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kelurusan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada ALLAH
    Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
    Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk/mengikuti (ittiba’) kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi.
    Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
    Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk2-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
    Mutsaqqoful Fikri (wawasan yg luas)
    Mutsaqqoful fikriwajib dipunyai oleh pribadi muslim. Karena itu salah satu sifat Rasulullah SAW adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir.
    Qowiyyul Jismi (jasmani yg kuat)
    Seorang muslim haruslah memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat.
    Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
    Hal ini penting bagi seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
    Harishun Ala Waqtihi (disiplin menggunakan waktu)
    Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
    Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
    Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Dimana segala suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan.
    Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
    Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi.
    Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
    Manfaat yang dimaksud disini adalah manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.Ini berarti setiap muslim itu harus selalu mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
    Untuk meraih kreteria Pribadi Muslim di atas membutuhkan mujahadah dan mulazamah atau kesungguhan dan kesinambungan. Allah swt berjanji akan memudahkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meraih keridloan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al Ankabut : 69. Allahu A’lam

  17. Posted by adzanwahiddien on 27 November 2008 at 4:45 AM

    Nama: ITA HARYATI
    Kelas: 1A
    NIM: 0803246

    Assalammualaikum Wr Wb,

    Alhamdulillahirobbil’alamin………….dengan adanya program tutorial pengetahuan saya tentang Islam semakin bertambah karena dalam acaranya terdapat pemberian materi yang disampaikan oleh pemateri yang tentunya sangat bermanfaat bagi saya. Namun karena terlalu sering, kegiatan tutorial membuat saya menjadi bosan untuk mengikutinya. Saran dari saya, tutorial ini sebaiknya di adakan hanya pada hari minggu saja karena kalau di tambah dengan hari rabu terlalu banyak menyita waktu. Mohon dipertimbangkan saran dari saya. Terima kasih.

    Wassalammualaikum Wr Wb.

  18. Posted by adzanwahiddien on 27 November 2008 at 4:45 AM

    Nama :Herlina puspitasari
    Kelas:1A
    Nim :0801712
    assalamualaikum…Wr.Wb

    Alhamdullilahirabbil’alamin,,,setelah mengikuti program tutorial saya mendapat banyak pengetahuan tentang islam sehingga saya bisa lebih mencintai islam tapi kalau boleh ngasih saran sebaiknya kegiatan tutorial ini jangan terlalu banyak kegiatanya,cukup hari minggu saja karena kami tingkat 1 masih banyak sekali tugas kuliah.

  19. Posted by adzanwahiddien on 27 November 2008 at 4:46 AM

    Nama:tuti kusmayanti
    kelas: IA
    NIM: 0801711

    Assalammualaikum… wr,wb

    program tutorial sebenarnya sangat bermanfaat bagi kita semua, terutama dalam masalah keagamaan.. tapi dengan jadwal tutorial yang terlalu lama membuat saya susah untuk membagi waktu dan kalo saya lagi banyak tugas saya merasa terbebani…. menurut saya kegiatan tutorial sebaiknya di laksanakan hari minggu aja, coz kalo sama hari rabu kayanya kebanyakan dech……………ma’f ya mohon di pertimbangkan….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    wassalammualaikum…wr,wb

  20. Posted by adzanwahiddien on 27 November 2008 at 4:47 AM

    Assalammualaikum wr wb

    Komentar: tutorial memang kegiatan yang banyak sekali manfaatnya bagi mahasiswa/i.karena dari tutorial ini kita bisa mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat..tp kalau bo;eh ngasih saran kegiatannya jangan terlalu lama dunk,soalnya kita mahasiswa baru juga sibuk sama tugas-tugas kuliah..truz tutorial ngsih tugasnya jangan banyak-banyak..

  21. Posted by sodikin maulana on 27 November 2008 at 5:16 AM

    Sodikin Maulana
    1A
    0802070

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Saya merasa kegiatan tutorial ini sangatlah bermanfaat,menambah wawasan tentang islam dan menambah pengetahuan pula.Apalagi ditambah dengan training GSM,saya merasa sangat senang!.
    Tapi yang sangat saya sayangkan kenapa ya para pengurus tutorial kayaknya gak begitu akur dengan Kalam?,padahal kita sebagai orang islam mesti bersatu.Jika tidak maka musuh islam akan mudah merusak islam.
    saya berharap agar tutorial tetap istiqomah dan dapat lebih professional lagi di masa mendatang dan tetap menjaga ukhuwah.amin.

    artikel islam

    Spirit Perubahan dari Al-Quran

    Al-Quran adalah kekuatan yang membawa perubahan dalam diri manusia.ada 2 perubahan besar yang menjadi perhatian kita yaitu:

    1.Perubahan hati dan jiwa,Al-Quran ibarat “air hujan ruh”yang diturunkan untuk menyuburkan hati dan jiwa manusia.Dari jiwa yang subur ini akan tumbuh ibarat pepohonan yang kokoh dan menghasilkan buah yang lebat.Selain itu ia akan memberikan keteduhan dan kebahagiaan bagi orang yang bernaung dibawahnya.Bahkan ketika orang melempari dengan batu,ia akan membalasnya dengan memeberikan buah-buahnya yang segar.demikian jika ruh manusia hidup dan sehat,yang dihasilkan oleh ucapan,sikap maupun perbuatannya hanyalah kebaikan yang membawa rahmat bagi sesamanya.Hal ini diperkuat oleh sabda Rosululloh,”sungguh pada diri setiap insan itu ada segumpal daging,jika baik maka baik seluruh amalannya,tetapi jika buruk maka buruk pula seluruh amalannya,itulah dia hati”.

    2.Perubahan cara pandang.Secara umum ada 3 cara manusia memandang kehidupan ini.
    Pertama,cara pandang materialistik,yakni cara pandang berdasarkan materi duniawi semata,tak perduli apakah Alloh ridho atau tidak dengan cara ia mendapatkannya.Cara pandang ini dicirikan dengan sikap lalai akan masa akhir hidupnya.Alloh menegaskan hal ini dlm QS.Attakatsur:1-2.
    Kedua,cara pandang spiritualistik.tipe ini memandang dunia hanya sebagai ilusi dan penghalang bagi seseorang dengan robbnya.Padahal Rosul melarang umatnya beribadah terlalu berlebihan dan melupakan dunianya.
    Ketiga,cara pandang islami.Cara pandang ini menggabungkan antara cara pandang materialistik dan cara pandang spiritualistik.Islam memandang dunia adalah jembatan kebahagiaan akhirat.apa yang kita lakukan di dunia akan berdampak di akhirat kelak.Sebaliknya,kehidupan akhirat akan mempengaruhi masa hidup kita di dunia.”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”(QS.Al-Qashash:77).
    AlQuran sebagai kekuatan pengubah (taghyir) harus mengubah cara pandang kita ke arah jalan yang benar.Kita tidak perlu bercermin ke barat atau ke timur,karena sesungguhnya kemajuan umat ini ditentukan dari sejauh mana pemahaman terhadap kitab sucinya dan menerapkannya dalam kehidupan,AlQuran sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

    Wallohu’alam bisshowab.

  22. Posted by Vera Fuji Utami M on 27 November 2008 at 6:25 AM

    Nama:Vera Fuji Utami M
    Kelas:1A
    NIM:0803248

    Assalamualaikum Wr Wb,

    Alhamdulillahirabbil’alamin….setelah saya mengikuti program tutorial di kampus UPI purwakarta ini saya bisa lebih mengetahui lebih dalam tentang islam. jujur saja program tutorial ini sangat bagus karena selain menambah wawasan tentang islam kita juga dapat memperbaiki jatidiri kita sebagai muslimah sejati.Namun sayangnya dalam program tutorial ini kurang dapat mengefisienkan jadwal sehingga ada sebagian mahasiswa yang keberatan dengan terlalu banyaknya jadwal.Mohon di pertimbangkan.Terimakasih…Wasalamualaikum Wr Wb…

  23. Posted by Trisna Asuh Awalia on 27 November 2008 at 6:41 AM

    Nama : Trisna asih Awalia
    Kelas : 1A
    NIM : 0801714

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Program tutorial ini sangat bagus karena saya dapat menambah ilmu pengetahuan tentang Islam khususnya. Selain itu kita juga dapat mempererat silaturahmi. Tapi mungkin karena waktunya 2 kali dala satu minggu membuat saya dan beberapa teman mahasiswa merasa keberatan karena sebagai tingkat satu saya memilki banyak tugas yang harus dikerjakan. Kalau bisa jadwal tutornya hari Minggu aja.Harap dipertimbangkan. Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  24. Nama : Neng Ratna
    Kelas : 1 B
    NIM : 0801718

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Kurang lebih satu bulan kegiatan tutorial ini berlangsung, banyak ilmu agama tentang islam yang dapat melengkapi memory dalam otak saya karena dangkalnya pengetahuan akan agama islam. Setiap minggu kegiatan tutorial rutin diadakan, mentoring dan kuliah zuhur. Awalnya tidak hanya karena nilai tetapi karena semangat untuk mengikuti tutorial, apa sih tutorial itu? dan apa saja kegiatannya? Setelah pembukaan dan beberapa kali mengikuti tutorial akhirnya saya tahu bahwa tutorial itu jelas, sebuah kegiatan yang telah saya sebutkan diatas. Awalnya dengan materi yang menarik dan kadang-kadang up to date serta pemetari yang selalu berganti saya senang untuk mendengarkan dan antusias, membuat saya untuk menunggu materi selanjutnya dan pemateri yang baru tapi lama-kelamaan membuat saya bosan dan kurang menarik, misalnya dalam metode dan penyampaian materi tidak ada perkembangan dan pemateri yang itu-itu saja selalu ustadz, kenapa tidak ustadzah sesekali. Saya selalu memperhatikan tiap kali pemateri menyampaikan materi terutama ustadz pandangan dia selalu mengarah ke ikhwan tanpa adanya interaksi kepada pihak akhwat tapi hanya sesekali yaitu sesi pertanyaan saja akibatnya banyak akhwat yang tidak mendengarkan apalagi memperhatikan pemateri kebanyakan mereka ngobrol termasuk saya. Saya ingin memberi saran, bolehkah pembatas kain hijau yang ada di mesjid dibuka saja, toh kami akhwat dan ikhwan tidak bercampur kan hingga pada akhirnya arah pandangan pemateri tidak hanya ke arah ikhwan tetapi ke akhwat juga selanjutnya di sela-sela kegiatan tutorial jangan selalu materi terus tetapi juga acara-acara refreshing. Lama-kelamaan saya merasa bosan pertama materi dan pemateri; kedua hari dalam setiap pertemuan tutorial tidak efektif bagi saya, bagi saya pribadi merasa bosan dan tidak semangat. Tetapi ketika saya bosan dan tidak semangat untuk mengikui tutorial saya merasa bangga dengan pengurus-pengurusnya, mereka selalu semangat dan peduli kepada kita semua khususnya tingkat 1 dengan kegiatan tutorial ini, tidak ada kelihatan wajah putus asa diwajah kakak-kakak sekalian dan semangat untuk memberikan nilai-nilai agama khususnya untuk saya. Saya berterima kasih kepada kakak-kakak semua khususnya ketua tutorial, ketua aqsa, dan mentor saya…
    Wassamualaikum Wr. Wb

  25. Posted by irawati wijaya on 27 November 2008 at 7:56 AM

    Nama : Irawati Wijaya
    NIM : 0803287
    kelas: IB

    “AsSaLAmu’aLaikUm wR.wB”

    Emmmmm…..bin9un9 nEch m0 n9mn9 pA?????
    Tp…pErTAma-TAma,,aQuwh uCaPin,,,,,,
    ALLhamdULiLLah,,,,seTeLAh AQuwh mAsuk uPI ne,bnYk pen9etaHuan y9 aQuwh dpT,,,sEperTi ke9iaTAn Tut0RiaL nE. Den9an aDAnya ke9iaTAn ini aQUwh banYAk bGT pEn9eTAhuAN y9 aQUwh dPt (khUSusnya pEngETahuan isLAm),,JUjur..(mmmm…kAya LA9u’y RAJA z yaCh…HEhehe,,,). AFwan…kiddin9. JujuR sbLm’y, pEn9eTAhuan tT9 iSLam aQuwh sAn9aT minim sekaLeee,,,,
    SubhanaLLAh,,,sETeLAh ikUT TutoriaL nE, aQuwh mULai mEN9eTAhui pA y9 Lum aQuwh kTAhui TTg iSLAm,,
    mDH-mdhAn dEngan adanya tutoRiaL ne dpT mEndOrong Qt sEba9ai muSlim yanh SoLEh dan SoLEha,,,,(AMien yA RobAL ALAmin….).
    kL boleh aQuwh kaSih sAran,,,SebaiKnya ke9iaTAn tuToriaL nE di adakan hAri miNggU saJA,,,aL’y TerLaLu seRing,,Jadi suKA nGerasa jenUh dan memBosankan,,,trUs pemaTerinya j9n terLAlu seRius,,suPAya ga nGantux,,,
    moHon diperTimbangkan…

  26. Posted by Ai hanni Zaen on 27 November 2008 at 7:57 AM

    Nama : Ai Hanni Zaen
    Nim : 0803290
    Kelas : 1A

    Assalamualaikum WR WB
    Selama mengikuti kegiatan titorial, saya lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan ilmu. Dan kegiatan mentoringnyapun menyenangkan karena dengan mentoring saya bisa sharing dengan yang lain. Pementornyapun cantik-cantik dan juga baik-baik. Memang sih sebelumnya sedikit malas mengikuti kegiatan tutorial, tapi ternyata menynangkan juga.
    Sebelumnya saya minta maaf sama Teteh/Aa/Bapak,menurut saya kegiatan di tutorial semakin lama semakin jenuh,karena kegiatannya itu lagi itu lagi.Menurut saya di kegiatan tutorial di kasih hiburan,dengan menonton bareng film islami atau apa saja yang bisa jadi hiburan.
    Bila ada kata-kata yang salah dan tidak menyenangkan di hati, saya minta maaf.Terimakasih…

  27. Posted by opi on 27 November 2008 at 8:50 AM

    Rofi’ah
    1B
    0802071

    Assalamu’alaikum Warohmatullahhi Wabarokaatuh…
    Alhamdulillah di UPI pwk ini ada program tutorial juga kaya dikampus negeri yang lain so bisa tetep ikut liqo dech, terus masih bisa dapetin ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan di akhirat.saya salut acara tutorial di sini lebih menarik dibanding kampus negeri yang pernah saya ikutin, lebih inovatif and kreatif cuma, ada cumanya masalah waktu nieh, kayanya mesti dipertimbangkan lagi,terus banyak tugasnya ukh. jujur ya tugasnya sulit coz ngebahas Al-Qur’an, ilmu kita kan masih terlalu rendah buat mengkaji Al-Qur’an. demi kemajuan tutorial sendiri…

    And Syukron buat para pengurusnya yang sudah mau jadi perantara pentransfer ilmu-ilmu dari dosen PAI.

    Tapi tetep bingung seh mengenai kegiatan tutorial di UPI nie.
    Sebelum di Akhiri komentarnya mau ngucapin Afwan jiddan bilih aya kalepatan. sakali deui hapuntennya…JKQ

    wassalamu’alaikum. wr.wb

  28. Posted by Agus Hidayat R. on 27 November 2008 at 8:51 AM

    Tutorial itu cukup bagus untuk sedikit menambah pengetahuan tentang Islam bagi mahasiswa/i. tapi kalo boleh kasih saran, kegiatannya jangan tiga kali seminggu, karena mahasiswa mungkin juga ada yang sibuk sama tugas-tugas kuliahnya dan malah mungkin ada yang sudah harus mengajar.

    n.b : tutorial jangan suka menjelek-jelekkan badan organisasi Islam lainnya baik yang berada di luar apalagi di dalam kampus. jujur, mahasiswa yang dulunya sedikit menaruh respect terhadap tutorial jadi sedikit ilfeel karena tutorial pernah menjelek-jelekkan organisasi Islam lain (khususnya di dalam kampus UPI Purwakarta)

  29. Posted by Agus Hidayat R. on 27 November 2008 at 8:53 AM

    nama : Agus Hidayat R.
    kelas: 1B
    NIM : 0805403

    Tutorial itu cukup bagus untuk sedikit menambah pengetahuan tentang Islam bagi mahasiswa/i. tapi kalo boleh kasih saran, kegiatannya jangan tiga kali seminggu, karena mahasiswa mungkin juga ada yang sibuk sama tugas-tugas kuliahnya dan malah mungkin ada yang sudah harus mengajar.

    n.b : tutorial jangan suka menjelek-jelekkan badan organisasi Islam lainnya baik yang berada di luar apalagi di dalam kampus. jujur, mahasiswa yang dulunya sedikit menaruh respect terhadap tutorial jadi sedikit ilfeel karena tutorial pernah menjelek-jelekkan organisasi Islam lain (khususnya di dalam kampus UPI Purwakarta)

  30. Posted by Fitria Aprianti on 28 November 2008 at 5:02 AM

    Nama : Fitria Aprianti
    NIM : 0803299
    Kelas : IA

    Komentar :
    Assalamu’alaikum wr.wb
    Menurut saya, tutorial merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, banyak sekali ilmu yang belum saya ketahui saya dapatkan di dalam tutorial ini. Akan tetapi seharusnya kegiatan tutorial ini cukup sekali dalam satu minggu, karena tingkat satu banyak tugas. jadi menurut saya tutorial diadakan hari rabu aja, coz hari minggu adalah hari istirahat…..,, dan banyak mahasiswa yang pulang kampung. trim’s…..
    Wassalamu’alaikum. wr. wb

    Urgensi Penegakan Khilafah Islamiyah
    Kehidupan Islam secara nyata mulai ditegakkan Rasulullah SAW di Madinah semenjak Rasulullah dan para shahabatnya berhijrah dari Makkah Al Mukarramah ke kota itu pada tahun 622 M. Setelah beliau SAW berpulang ke haribaan Allah SWT, kehidupan Islam pun dilanjutkan oleh para sahabat di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib.

    Puluhan Khalifah dari kalangan Umawiyyin, Abbassiyin, dan Utsmaniyyin terus melanjutkan kehidupan Islam yang mulia itu, hingga hancurnya Daulah Khilafah Islamiyyah yang berpusat di Turki pada tanggal 3 Maret 1924,setelah Musthofa Kamal yang murtad mengumumkan penghapusan Khilafah di hadapan Dewan Nasional Raya Turki.

    Setelah itu tidak ada lagi kehidupan Islam. Yang ada hanyalah kehidupan orang-orang Islam yang menerapkan aturan Islam sebagian kecilnya saja dan meninggalkan sebagian besar lainnya. Yang ada hanyalah kehidupan sekuleristik yang menceraikan kehidupan dari agama.

    Sejak musnahnya payung dunia Islam itu, umat Islam di berbagai belahan dunia hidup nista dan terlunta-lunta didera krisis demi krisis yang seakan tiada pernah berakhir. Wilayah Islam yang semula luas terbentang di seluruh jazirah Arab, Syam, Irak, Turki, semenanjung Balkan, sebagian Asia Tengah, Afrika Bagian Utara, bahkan sebagian Eropa Barat, Asia Tenggara dan Selatan, terpenggal-penggal menjadi lebih dari lima puluh kepingan kecil wilayah yang dikuasai oleh penjajah yang kafir. Jazirah Arab, wilayah Syam, Irak, Asia Selatan dikuasai Inggris, Afrika Bagian Utara dikuasai Perancis, demikian halnya dengan wilayah lainnya. Meskipun mulai dekade 40-an hingga 60-an wilayah-wilayah itu satu per satu merdeka,yakni terbebas dari penjajahan secara fisik (militer), tapi sesungguhnya pengaruh penjajahan tetap saja bercokol di wilayah-wilayah itu dalam berbagai bentuk penjajahan gaya baru di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, biologis, dan lainnya melalui para penguasa muslim yang menjadi boneka kaum imperialis.

    Kaum muslimin akhirnya terpecah-belah dan bercerai-berai dalam kerangkeng puluhan negara bangsa (nation-state) dan dibelenggu oleh batas teritorial yang berbasis pada paham nasionalisme yang sempit. Sekalipun boleh jadi kaum muslimin masih memiliki perasaan ukhuwah Islamiyah, namun perasaan tersebut hanya berhenti sebatas emosi kosong belaka, yang tidak dapat diwujudkan secara konkret untuk membela kepentingan kaum muslimin yang sedang menderita di seluruh pelosok dunia, karena dihalangi oleh sikap dan orientasi politik masing-masing negara yang berhaluan nasionalistis. Padahal Allah SWT berfirman :

    “Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara”(QS. Al Hujurat : 10)

    Di negeri masing-masing, kaum muslimin mengalami berbagai problem yang sangat berat. Untuk wilayah yang miskin dan melarat, kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari yang memprihatin-kan. Penindasan oleh penguasa, korupsi, kedzaliman, kebodohan, kebejatan moral, dan kerusakan lingkungan ibarat cerita bersambung yang tak pernah diketahui kapan akan tamat.

    Secara internasional, wilayah-wilayah itu juga tak henti-hentinya menjadi objek jarahan, eksploitasi, dan penindasan negara-negara adidaya. Emas di Indonesia habis diangkut ke Amerika dan Kanada melalui Freeport, minyak di negara-negara Teluk tandas disedot melalui politik perdagangan yang culas dan curang.

    Ternyata, semua tragedi memilukan ini bukanlah akhir cerita. Di bidang kemanusiaan, terjadi pembantaian yang kejam terhadap kaum muslimin di Palestina, Bosnia, Kosovo, Maluku, dan wilayah lainnya. Di bidang ekonomi, para penguasa yang sebenarnya tidak becus mengurus negara itu rela didikte secara hina tanpa berani memberikan bantahan apalagi perlawanan terhadap pihak-pihak asing yang menyetir berbagai kebijakan. Utang luar negeri, persoalan perbankan, pergantian pejabat BUMN, rekapitalisasi perbankan, subsidi listrik dan BBM, bahkan penentuan bea masuk impor beras pun tidak lepas dari tekanan, intimidasi, dan teror negara-negara Barat melalui IMF. Dalam bidang politik, kaum muslimin harus menerima kenyataan pahit : tidak dapat menentukan nasibnya sendiri. Kaum muslimin di berbagai belahan dunia dipenjara aqidah dan pemikirannya dalam penjara-penjara demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Sekularisme menjadi paham sakral yang betul-betul disucikan dan diagung-agungkan, seolah-olah para perumusnya adalah orang-orang mashum yang mustahil tersentuh dosa. Ucapan-ucapan propagandisnya dianggap firman atau sabda suci yang bernilai benar secara absolut, yang haram untuk dibantah. Sebagai contoh, di Indonesia sendiri Presiden Gus Dur menyatakan bahwa agama jangan dijadikan institusi dalam kehidupan negara.Katanya, Biarkan agama berkembang, negara tidak usah campur tangan.(Republika, 23/3/2000). Ketika membuka Kongres Muslimat NU XIV di Istora Senayan hari Senin 27 Maret 2000 lalu, Gus Dur kembali menyatakan bahwa negara Islam itu tidak wajib. Selain itu, menurutnya mereka yang menghendaki negara Islam hanyalah orang-orang yang gagal memahami hakikat ajaran Islam.Dengan mulutnya Gus Dur berkata, Saya sendiri dalam menjalankan pemerintahan juga berpegang pada keputusan para ulama, yaitu kita tidak wajib mendirikan negara Islam, melainkan wajib menegakkan keimanan Islam dan akhlak Islam di dalam diri orang-orang yang percaya. Dengan kata lain, tidak ada kewajiban mendirikan negara Islam. Kalau ini tidak diterima orang, bagi saya orang itu belum paham. (Kompas, 28/3/2000). Agama betul-betul dikebiri secara total dan hanya diperankan secara formalitas di pojok-pojok masjid dalam perkara ibadah ritual. Dalam kehidupan, agama hanya dijadikan semacam spirit, etika, moral, semangat, ruh, atau entah istilah apa lagi yang intinya adalah mengingkari peran Islam secara total dan holistik untuk mengatur kehidupan manusia. Dalam bidang pendidikan, putera-puteri kaum muslimin terus dicekoki dan didoktrinasi dengan persepsi-persepsi kapitalis yang penuh dengan kerancuan dalam sistem pendidikan sekuler yang serba materialistik. Diskursus pemikiran dan budaya yang sangat berbahaya dan bertentangan dengan Islam seperti dialog antar agama dibiarkan merajalela untuk meracuni, membodohi, dan memurtadka kaum muslimin.

    Semua krisis ini menunjukkan betapa keroposnya pertahanan umat Islam menghadapi hegemoni negara-negara Barat dan segenap agen-agennya dari kalangan penguasa yang zalim dan kejam. Umat Islam yang jumlahnya lebih dari 1,2 milyar tak ubahnya bagai lautan buih yang tak memiliki kekuatan apa-apa. Realitas demikian sungguh bertolak belakang? 180 derajat dengan kondisi umat yang sedemikian jaya saat Daulah Khilafah Islamiyah tegak selama lebih dari 1000 tahun.

    Jelaslah, tanpa Daulah Khilafah Islamiyah (biasa disingkat Khilafah) kaum muslimin akan hidup bergelimang dengan kehinaan dan keterpurukan. Mereka terpecah belah menjadi puluhan negara, kekayaannya dirampok dan diangkut ke luar negeri, kezhaliman negara-negara imperialis Barat tak mampu dilawan, hukum-hukum kufur merajalela dengan leluasa, dan anak cucu Adam semakin jauh dari sifat fitri kemanusiaannya. Sementara itu hukum-hukum Allah yang adil, agung, dan mulia teronggok secara nista hanya dalam kitab-kitab fiqih yang usang dan berdebu. Kalaupun dikaji, hukum-hukum yang mulia itu hanya sekedar menjadi pengetahuan dan konsumsi otak belaka, jauh dari penerapannya dalam kehidupan nyata.

  31. Posted by Devi Novitasari on 28 November 2008 at 5:25 AM

    Nama : Devi Novitasari
    Nim : 0801651
    Kelas : 1.A

    Komentar :Assalamu’alaikum Wr.Wb Menurut saya kegiatan tutorial sangat banyak sekali manfaatnya,saya banyak mendapatkan ilmu tetang keislaman dan dapat memperdalam pengetahuan saya. Namun menurut saya waktu yang ditentukan sangat padat,saya sebagai mahasiswa 0tingkat satu sering susah sekali membagi waktunya,apa lagi jika harinya dipindahkan kehari lain. Jadi menurut saya tutorial sebaiknya hari rabu saja,sebab hari minggu adalah hari libur waktunya istirahat sering kali saya tidak pulang kampung karena kegiatan tutor. Mohon dipertimbangkan yaaaaaaaaaachhhh……..
    Wa’alaikum salam Wr.Wb

    TAWAKAL
    Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Alloh Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, ”Dan barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, maka Dia itu cukup baginya.” (Ath Tholaq: 2-3)Makna Bertawakal Kepada Alloh
    Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna tawakal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan, “Tawakal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakali.” (Faidhul Qadir, 5/311). Ibnu ‘Abbas radhiyallohu’anhuma mengatakan bahwa tawakal bermakna percaya sepenuhnya kepada Alloh Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan, ”Tawakal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.” Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang tawakal, maka beliau menjawab, ”Ridho kepada Alloh Ta’ala”, Ibnu Rojab Al Hanbali mengatakan, ”Tawakal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Alloh Ta’ala dalam memperoleh kemashlahatan dan menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan.” Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ”Tawakal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.”
    Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari Kerusakan
    Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata, Imam Al Bukhori telah mencatat dalam kitab shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api yang membara beliau mengatakan, “Hasbunallohu wa ni’mal wakiil.” (Cukuplah Alloh menjadi penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah yang diungkapkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berencana untuk memerangimu, maka waspadalah engkau terhadap mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Tafsir. Lihat Fathul Bari VIII/77)

    Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: ‘Cukuplah Alloh menjadi penolong kami dan Alloh sebaik-baik pelindung’.” (HR. Bukhori)
    Bertawakal Kepada Alloh Adalah Kunci Rizki

    Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)

    Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak, karena dia telah bertawakal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu Hatim Ar Razy berkata, ”Hadist ini merupakan tonggak tawakal. Tawakal kepada Alloh itulah faktor terbesar dalam mencari riqzi.” Karena itu, barangsiapa bertawakal kepadaNya, niscaya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan mencukupinya. Alloh berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3). Ar Rabi’ bin Khutsaim berkata mengenai ayat tersebut, “Yaitu mencukupinya dari segala sesuatu yang membuat sempit manusia.”

  32. Posted by Frina Fratiwi on 28 November 2008 at 5:53 AM

    Nama : Frina Fratiwi
    NIM : 0803298
    Kelas : IA

    Komentar :
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    kegiatan tutorial merupakan satu kegiatan yang sangat banyak sekali manfaatnya bagi saya pribadi, karena dengan kegiatan ini saya akui pengetahuan tentang islam yang saya miliki semakin bertambah. tutorial juga lumayan sarat dengan inovasi karena kini ada acara yang disebut dengan GSM yang menurut sebagian orang sangat menyenangkan, menarik dan termotivasi untuk menjadikan hidup kita lebih baik namun tetap di jalan ALLah SWT. namun kalau boleh saran sebaiknya acara GSM jangan teralu malam, karena sebagai seorang perempuan tidak baik jika pulang larut malam, apalagi di kota Purwakarta ini, larut malam kendaraan sudah tidak banyak beroperasi.

    Hak-hak Wanita dalam Islam
    Sesungguhnya Islam menempatkan wanita pada posisi yang tinggi dan sejajar de-ngan pria. Namun dalam beberapa hal ada yang harus berbeda, karena pria dan wanita hakikatnya adalah makhluk yang berbeda. Kesalahan dalam memahami ajaran yang benar inilah yang menjadikan Islam kerap dituding sebagai agama yang menempatkan wanita sebagai “warga kelas dua.” Benarkah? Simak kupasannya!

    Suatu hal yang tidak kita sangsikan bahwa Islam demikian memuliakan wanita, dari semula makhluk yang tiada berharga di hadapan “peradaban manusia”, diinjak-injak kehormatan dan harga dirinya, kemudian diangkat oleh Islam ditempatkan pada tempat yang semestinya dijaga, dihargai, dan dimuliakan. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan banyak kebaikan kepada hamba-hamba-Nya.
    Keterangan ringkas yang akan dibawakan, sedikitnya akan memberikan gambaran bagaimana Islam menjaga hak-hak kaum wanita, sejak mereka dilahirkan ke muka bumi, dibesarkan di tengah keluarganya sampai dewasa beralih ke perwalian sang suami.

    1. Pada Masa Kanak-kanak
    Di masa jahiliah tersebar di kalangan bangsa Arab khususnya, kebiasaan menguburkan anak perempuan hidup-hidup karena keengganan mereka memelihara anak perempuan. Lalu datanglah Islam mengharamkan perbuatan tersebut dan menuntun manusia untuk berbuat baik kepada anak perempuan serta menjaganya dengan baik. Ganjaran yang besar pun dijanjikan bagi yang mau melaksanakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran dalam sabda-Nya:

    مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ (وَضَمَّ أَصَابِعَهُ)

    “Siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga keduanya mencapai usia baligh maka orang tersebut akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia1 seperti dua jari ini.” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 6638 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkisah: “Datang ke rumahku seorang wanita peminta-minta beserta dua putrinya. Namun aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kusedekahkan kepada mereka kecuali hanya sebutir kurma. Wanita tersebut menerima kurma pemberianku lalu dibaginya untuk kedua putrinya, sementara ia sendiri tidak memakannya. Kemudian wanita itu berdiri dan keluar dari rumahku. Tak berapa lama masuklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kuceritakan hal tersebut kepada beliau. Usai mendengar penuturanku beliau bersabda:

    “Siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang/penutup baginya dari api neraka.” (HR. ِAl-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 6636)
    Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam penjelasan atas hadits di atas: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan ujian (ibtila`), karena manusia biasanya tidak menyukai anak perempuan (lebih memilih anak lelaki), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kebiasaan orang-orang jahiliah:

    “Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59)
    Hadits-hadits yang telah disebutkan di atas menunjukkan keutamaan berbuat baik kepada anak perempuan, memberikan nafkah kepada mereka dan bersabar memelihara mereka. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/395)
    Islam mewajibkan kepada seorang ayah untuk menjaga anak perempuannya, memberi nafkah kepadanya sampai ia menikah dan memberikan kepadanya bagian dari harta warisan.

    2. Dalam masalah pernikahan
    Wanita diberi hak untuk menentukan pendamping hidupnya dan diperkenankan menolak calon suami yang diajukan orang tua atau kerabatnya bila tidak menyukainya. Beberapa hadits di bawah ini menjadi bukti:
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah (dimintai pendapatnya), dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan hingga diminta izinnya.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah izinnya seorang gadis?” “Izinnya adalah dengan ia diam”, jawab Rasulullah. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

    “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis itu malu (untuk menjawab bila dimintai izinnya dalam masalah pernikahan).” Beliau menjelaskan, “Tanda ridhanya gadis itu (untuk dinikahkan) adalah diamnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5137)
    Khansa` bintu Khidam Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, ayahnya menikahkannya dengan seorang lelaki ketika ia menjanda. Namun ia menolak pernikahan tersebut. Ia adukan perkaranya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga akhirnya beliau membatalkan pernikahannya. (HR. Al-Bukhari no. 5138)
    Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam kitab Shahih-nya: Bab Apabila seseorang menikahkan putrinya sementara putrinya tidak suka maka pernikahan itu tertolak.
    Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq menceritakan, salah seorang putri Ja’far2 merasa khawatir walinya akan menikahkannya secara paksa. Maka ia mengutus orang untuk mengadukan hal tersebut kepada dua syaikh dari kalangan Anshar, ‘Abdurrahman dan Majma’, keduanya adalah putra Yazid bin Jariyah. Keduanya berkata, “Janganlah kalian khawatir, karena ketika Khansa` bintu Khidam dinikahkan ayahnya dalam keadaan ia tidak suka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak pernikahan tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 6969)
    Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:

    “Pernah datang seorang wanita muda menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mengadu, ‘Ayahku menikahkanku dengan anak saudaranya untuk menghilangkan kehinaan yang ada padanya dengan pernikahanku tersebut’, ujarnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan keputusan padanya (apakah meneruskan pernikahan tersebut atau membatalkannya). Si wanita berkata, ‘Aku membolehkan ayah untuk melakukannya. Hanya saja aku ingin para wanita tahu bahwa ayah mereka tidak memiliki urusan sedikitpun dalam memutuskan perkara seperti ini’.” (HR. Ibnu Majah no. 1874, kata Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih (3/64), “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Imam Muslim.”)
    Islam memberikan hak seperti ini kepada wanita karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan wanita sebagai penenang bagi suaminya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kehidupan suami istri ditegakkan di atas mawaddah wa rahmah. Maka bagaimana akan terwujud makna yang tinggi ini apabila seorang gadis diambil secara paksa sebagai istri sementara ia dalam keadaan tidak suka? Lalu bila demikian keadaannya, sampai kapan pernikahan itu akan bertahan dengan tenang dan tenteram?
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menyatakan: “Tidak boleh seorang pun menikahkan seorang wanita kecuali terlebih dahulu meminta izinnya sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila si wanita tidak suka, maka ia tidak boleh dipaksa untuk menikah. Dikecualikan dalam hal ini, bila si wanita masih kecil, karena boleh bagi ayahnya menikahkan gadis kecilnya tanpa meminta izinnya. Adapun wanita yang telah berstatus janda dan sudah baligh maka tidak boleh menikahkannya tanpa izinnya, sama saja baik yang menikahkannya itu ayahnya atau yang lainnya. Demikian menurut kesepakatan kaum muslimin.”
    Ibnu Taimiyyah rahimahullahu melanjutkan: “Ulama berbeda pendapat tentang izin gadis yang akan dinikahkan, apakah izinnya itu wajib hukumnya atau mustahab (sunnah). Yang benar dalam hal ini adalah izin tersebut wajib. Dan wajib bagi wali si wanita untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memilih lelaki yang akan ia nikahkan dengan si wanita, dan hendaknya si wali melihat apakah calon suami si wanita tersebut sekufu atau tidak. Karena pernikahan itu untuk kemaslahatan si wanita, bukan untuk kemaslahatan pribadi si wali.” (Majmu’ Fatawa, 32/39-40)
    Islam menetapkan kepada seorang lelaki yang ingin menikahi seorang wanita agar memberikan mahar pernikahan kepada si wanita. Dan mahar itu nantinya adalah hak si wanita, tidak boleh diambil sedikitpun kecuali dengan keridhaannya.

    “Berikanlah mahar kepada para wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian dengan senang hati sebagian dari mahar tersebut, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa`: 4)
    Al-Imam Al-Qurthubi Subhanahu wa Ta’ala berkata, “Ayat ini menunjukkan wajibnya pemberian mahar kepada wanita yang dinikahi. Ulama menyepakati hal ini tanpa ada perbedaan pendapat, kecuali riwayat sebagian ahlul ilmi dari penduduk Irak yang menyatakan bila seorang tuan menikahkan budak laki-lakinya dengan budak wanitanya maka tidak wajib adanya mahar. Namun pendapat ini tidak dianggap.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/17)

    3. Sebagai Seorang Ibu
    Islam memuliakan wanita semasa kecilnya, ketika remajanya dan saat ia menjadi seorang ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala titahkan hal ini dalam Tanzil-Nya setelah mewajibkan ibadah hanya kepada-Nya:

    “Rabbmu telah menetapkan agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan hendaklah kalian berbuat baik terhadap kedua orangtua. Apabila salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya menginjak usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan membentak keduanya namun ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang, ucapkanlah doa, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah memelihara dan mendidikku sewaktu kecil.” (Al-Isra`: 23-24)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

    “Dan Kami telah mewasiatkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandung sampai menyapihnya adalah tigapuluh bulan…” (Al-Ahqaf: 15)
    Ketika shahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa setelah itu?” tanya ‘Abdullah lagi. Kata beliau, “Kemudian birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua)….” (HR. Al-Bukhari no. 504 dan Muslim no. 248)
    Kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu -seorang shahabat Rasul yang sangat berbakti kepada ibundanya-, “Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah. (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
    Hadits di atas menunjukkan pada kita bahwa hak ibu lebih tinggi daripada hak ayah dalam menerima perbuatan baik dari anaknya. Hal itu disebabkan seorang ibulah yang merasakan kepayahan mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ibulah yang bersendiri merasakan dan menanggung ketiga perkara tersebut, kemudian nanti dalam hal mendidik baru seorang ayah ikut andil di dalamnya. Demikian dinyatakan Ibnu Baththal rahimahullahu sebagaimana dinukil oleh Al-Hafidz rahimahullahu. (Fathul Bari, 10/493)
    Islam mengharamkan seorang anak berbuat durhaka kepada ibunya sebagaimana ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

    sesungguhnya Allah mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada para ibu…” (HR. Al-Bukhari no. 5975 dan Muslim no. 593)
    Al-Hafizh rahimahullahu menerangkan, “Dikhususkan penyebutan para ibu dalam hadits ini karena perbuatan durhaka kepada mereka lebih cepat terjadi daripada perbuatan durhaka kepada ayah disebabkan kelemahan mereka sebagai wanita. Dan juga untuk memberikan peringatan bahwa berbuat baik kepada seorang ibu dengan memberikan kelembutan, kasih sayang dan semisalnya lebih didahulukan daripada kepada ayah.” (Fathul Bari, 5/86)
    Sampai pun seorang ibu yang masih musyrik ataupun kafir, tetap diwajibkan seorang anak berbuat baik kepadanya. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anha. Ia berkisah: “Ibuku yang masih musyrik datang mengunjungiku bertepatan saat terjalinnya perjanjian antara Quraisy dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ibuku datang berkunjung dan memintaku untuk berbuat baik kepadanya. Apakah aku boleh menyambung hubungan dengannya?” Beliau menjawab, “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR. Al-Bukhari no. 5979)

    4. Sebagai Istri
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan seorang suami agar bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.

    “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa`: 19)
    Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata, “Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ meliputi pergaulan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Karena itu, sepantasnya seorang suami mempergauli istrinya dengan cara yang ma’ruf, menemani, dan menyertai (hari-hari bersamanya) dengan baik, menahan gangguan terhadapnya (tidak menyakitinya), mencurahkan kebaikan dan memperbagus hubungan dengannya. Termasuk dalam hal ini pemberian nafkah, pakaian, dan semisalnya. Dan tentunya pemenuhannya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan.” (Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 172)
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para suami:

    “Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.”
    ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu datang mengadu, “Wahai Rasulullah, para istri berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.” Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan untuk memukul istri bila berbuat durhaka. Selang beberapa waktu datanglah para wanita dalam jumlah yang banyak menemui istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengadukan perbuatan suami mereka. Mendengar pengaduan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Mereka itu bukanlah orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
    Beliau juga pernah bersabda:

    Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad 2/527, At-Tirmidzi no. 1172. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/336-337)
    Banyak hak yang diberikan Islam kepada istri, seperti suami dituntut untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, ia berhak memperoleh nafkah, pengajaran, penjagaan dan perlindungan, yang ini semua tidak didapatkan oleh para istri di luar agama Islam.
    Bila sudah demikian penjagaan Islam terhadap hak wanita dan pemuliaan Islam terhadap kaum wanita; lalu apa lagi yang ingin diteriakkan oleh kalangan feminis yang katanya memperjuangkan hak wanita, padahal sebenarnya ingin mencampakkan wanita kembali ke lembah kehinaan, terpuruk dan terinjak-injak?
    Wallahul musta’an.

  33. Nama : neng ratna
    Kelas : 1b
    NIM : 0801718
    Banyak pengetahuan tentang islam yang dapat melengkapi memory dalam otak saya,.
    Awalnya dengan materi yang menarik dan kadang-kadang up to date membuat saya semangat dan antusias, tapi lama-kelamaan bosan dan kurang menarik, metode penyampaian tidak ada perkembangan dan pemateri yang itu-itu saja selalu ustadz kenapa tidak ustadzah saja?, Pandangan pemateri yang selalu mengarah pada ikhwan tanpa adanya interaksi ke akhawat, pada saat kuliah Zuhur akibatnya banyak akhwat yang tidak mendengarkan kebanyakan mereka ngobrol termasuk saya juga he..he..
    Bolehkah pembatas kain warna hijau dibuka saja hingga akhirnya pandangan materi tidak hanya kearah ikhwan tetapi juga kearah akhawat, kegiatan tutorial jangan selalu materi terus tapi juga ada acara refreshing..
    Lama-kelamaan saya merasa bosan pertama materi dan pemateri; kedua hari kegiatan tutorial tidak efektif. Tapi ketika saya bosan dan tidak semangat untuk mengikuti kegiatan tutorial, saya merasa bangga dengan pengurus-pengurusnya, selalu semangat, tidak ada kelihatan wajah putus asa, dan peduli kepada kita semua khususnya tingkat 1.. 🙂

  34. Posted by miftya yuliyanti on 29 November 2008 at 2:40 AM

    miftya yuliyanti (1A)
    ass….
    menurut saya, kegiatan tutorial ini cukup menyenangkan. karena banyak sekali kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat. tapi saran saya lebih baik kegiatan tutorial ini dilaksanakan hari rabu saja karena hari minggu waktunya untuk istirahat bersama keluarga.terus jangan ada kegiatan malam karena lokasi rumah saya sangat jauh dari kampus jadi jarang diizinin orang tua.kalo ngasih tugas jangan susah2.

    artikel:

    SABAR

    * Makna Sabar
    Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran“. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

    Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.

    Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

    Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

    * Bentuk-Bentuk Kesabaran
    Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

    1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.

    2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.

    3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.

    * Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran
    Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:

    1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.

    2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.

    3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.

    4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.

    5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.

    6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.

    7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.

  35. ASSALAMMUALAIKUM Wr. Wb.

    NAMA : Dian Maulana
    Kelas : 1 A
    NIM : 0801635

    Kritik dan Saran :

    hmmm…….
    sblum na mav jika ada salah” kata dari saya…..

    yang saya ketahui dari teman saya dari upi pusat….
    kegiatan tutorial itu hanya ada kuliah dhuha dan mentoring pada hari minggu saja…..

    tapi kenapa di upi kampus purwakarta ini acara tutorial subhanallah sekali lebih dari yang di pusat.

    yaitu kuliah duhur.
    dan lagi di tambah dengan GSM.

    apa iya d pusat juga ada GSm?
    dan menurut saya tentang GSM itu. jika anak tidak mau y tidak usa adalah.
    karena jika memang di paksakan itu pun GSM akan menjadi percuma saja.
    karena mengikutinya dengan terpaksa.
    tapi kalau dari saya sendiri sih tetang GSM ini g jadi maslah.
    karena saya ingin tahu sebarapa banyak GSM ini bisa merubah kehidupan orang yang telah mengikutinya.
    tapi kalau yang lain kan pasti punya tanggapan berbeda.

    ARTIKEL :

    SHALAT

    Berdasarkan berbagai keterangan dalam Kitab Suci dan Hadits
    Nabi, dapatlah dikatakan bahwa shalat adalah kewajiban
    peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem
    keagamaan Islam. Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita
    menegakkan shalat (iqamat al-shalah, yakni menjalankannya
    dengan penuh kesungguhan), dan menggambarkan bahwa kebahagiaan
    kaum beriman adalah pertama-tama karena shalatnya yang
    dilakukan dengan penuh kekhusyukan. [1]). Sebuah hadits Nabi
    saw. menegaskan, “Yang pertama kali akan diperhitungkan
    tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah shalat: jika
    baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka
    rusak pulalah seluruh amalnya.” [2] Dan sabda beliau lagi,
    “Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada
    Allah), tiang penyangganya shalat, dan puncak tertingginya
    ialah perjuangan di jalan Allah.” [3]

    Karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang
    pentingnya shalat yang kita dapatkan dalam sumber-sumber
    agama, tentu sepatutnya kita memahami makna shalat itu sebaik
    mungkin. Berdasarkan berbagai penegasan itu, dapat ditarik
    kesimpulan bahwa agaknya shalat merupakan “kapsul” keseluruhan
    ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau
    sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan. Dalam
    shalat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup
    kita, yaitu penghambaan diri (‘ibadah) kepada Allah, Tuhan
    Yang Maha Esa, dan melalui shalat itu kita memperoleh
    pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai
    hidup yang luhur. Dalam perkataan lain, nampak pada kita bahwa
    shalat mempunyai dua makna sekaligus: makna intrinsik, sebagai
    tujuan pada dirinya sendiri dan makna instrumental, sebagai
    sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur.

    Makna Intrinsik Shalat (Arti Simbolik Takbirat al-Ihram)

    Kedua makna itu, baik yang intrinsik maupun yang instrumental,
    dilambangkan dalam keseluruhan shalat, baik dalam unsur
    bacaannya maupun tingkah lakunya. Secara Ilmu Fiqih, shalat
    dirumuskan sebagai “Ibadah kepada Allah dan pengagungan-Nya
    dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu yang
    dibuka dengan takbir (Allahu Akbar) dan ditutup dengan taslim
    (al-salam-u ‘alaykam wa rahmatu-‘l-Lah-i wa barakatah), dengan
    runtutan dan tertib tertentu yang diterapkan oleh agama
    Islam.” [4]

    Takbir pembukaan shalat itu dinamakan “takbir ihram” (takbirat
    al-ihram), yang mengandung arti “takbir yang mengharamkan”,
    yakni, mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang
    tidak ada kaitannya dengan shalat sebagai peristiwa menghadap
    Tuhan. Takbir pembukaan itu seakan suatu pernyataan formal
    seseorang membuka hubungan diri dengan Tuhan (habl-un min-a
    ‘l-Lah), dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua
    bentuk hubungan dengan sesama manusia (habl-un min al-nas –
    “hablum minannas”). Maka makna intrinsik shalat diisyaratkan
    dalam arti simbolik takbir pembukaan itu, yang melambangkan
    hubungan dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya. Jika
    disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah
    agar mereka menghamba kepada-Nya, maka wujud simbolik
    terpenting penghambaan itu ialah shalat yang dibuka dengan
    takbir tersebut, sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap
    menghadap Allah.

    Sikap menghadap Allah itu kemudian dianjurkan untuk dikukuhkan
    dengan membaca doa pembukaan (du’a al-iftitah), yaitu bacaan
    yang artinya, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada
    Dia yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, secara
    hanif (kecenderungan suci kepada kebaikan dan kebenaran) lagi
    muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik dan Benar itu),
    dan aku tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik.” [5]
    Lalu dilanjutkan dengan seruan, “Sesungguhnya shalatku, darma
    baktiku, hidupku dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam
    raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan
    aku termasuk mereka yang pasrah (muslim).” [6]

    Jadi, dalam shalat itu seseorang diharapkan hanya melakukan
    hubungan vertikal dengan Allah, dan tidak diperkenankan
    melakukan hubungan horizontal dengan sesama makhluk (kecuali
    dalam keadaan terpaksa). Inilah ide dasar dalam takbir
    pembukaan sebagai takbirat al-ihram. Karena itu, dalam
    literatur kesufian berbahasa Jawa, shalat atau sembahyang
    dipandang sebagai “mati sajeroning hurip” (mati dalam hidup),
    karena memang kematian adalah panutan hubungan horizontal
    sesama manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan “hari
    pembalasan” tanpa hubungan horizotal seperti pembelaan,
    perantaraan, ataupun tolong-menolong. [7]

    Selanjutnya dia yang sedang melakukan shalat hendaknya
    menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang
    makhluk yang sedang menghadap Khaliknya, dengan penuh
    keharuan, kesyahduan dan kekhusyukan. Sedapat mungkin ia
    menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta itu
    sedemikian rupa sehingga ia “seolah-olah melihat Khaliknya”;
    dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi
    sedalam-dalamnya bahwa “Khaliknya melihat dia”, sesuai dengan
    makna ihsan seperti dijelaskan Nabi saw dalam sebuah hadits.
    [8] Karena merupakan peristiwa menghadap Tuhan, shalat juga
    sering dilukiskan sebagai mi’raj seorang mukmin, dalam analogi
    dengan mi’raj Nabi saw yang menghadap Allah secara langsung di
    Sidrat al-Muntaha.

    Dengan ihsan itu orang yang melakukan shalat menemukan salah
    satu makna yang amat penting ibaratnya, yaitu penginsyafan
    diri akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (omnipresent), sejalan
    dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci, seperti, misalnya:
    “Dia (Allah) itu beserta kamu di manapun kamu berada, dan
    Allah Maha teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan.” [9]

    Bahwa shalat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara
    hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya
    akan ke-Maha-Hadiran-Nya, ditegaskan, misalnya, dalam perintah
    kepada Nabi Musa as. saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai:
    “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka
    sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk
    mengingat-Ku!” [10] Dan ingat kepada Allah yang dapat berarti
    kelestarian hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga
    berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup
    di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari
    Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya”. [11] Maka dalam
    literatur kesufian berbahasa Jawa, Tuhan Yang Maha Esa adalah
    “Sangkan-Paraning hurip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan
    “Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).

    Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup tentu
    akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti
    sedemikian rupa sehingga ia kelak akan kembali kepada Allah
    dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).
    Oleh karena manusia mengetahui, baik secara naluri maupun
    logika, bahwa Allah tidak akan memberi perkenan kepada sesuatu
    yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti
    yang harus ditempuhnya dalam rangka hidup menuju Allah ialah
    yang benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang
    asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani,
    bersifat cahaya, yakni, terang dan menerangi), yang merupakan
    pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber dorongan suci manusia
    menuju kebenaran (hanif).

    Tetapi manusia adalah makhluk yang sekalipun pada dasarnya
    baik namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu
    mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya
    dengan hidup sehari-hari. Sering kebenaran itu tak nampak
    padanya karena terhalang oleh hawa nafsu (hawa al-nafs,
    kecenderungan diri sendiri) yang subyektif dan egois sebagai
    akibat dikte dan penguasaan oleh vested interest-nya. Karena
    itu dalam usaha mencari dan menemukan kebenaran tersebut
    mutlak diperlukan ketulusan hati dan keikhlasannya, yaitu
    sikap batin yang murni, yang sanggup melepaskan diri dari
    dikte kecenderungan diri sendiri atau hawa nafsu itu.
    Begitulah, maka ketika dalam shalat seseorang membaca surat
    al-Fatihah –yang merupakan bacaan terpenting dalam ibadat
    itu– kandungan makna surat itu yang terutama harus dihayati
    benar-benar ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan
    jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim). Permohonan itu
    setelah didahului dengan pernyataan bahwa seluruh perbuatan
    dirinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah (basmalah),
    diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya
    sebagai pemelihara seluruh alam raya (hamdalah), Yang Maha
    Pengasih (tanpa pilih kasih di dunia ini -al-Rahman) dan Maha
    Penyayang (kepada kaum beriman di akhirat kelak -al-Rahim).
    Lalu dilanjutkan dengan pengakuan terhadap Allah sebagai
    Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap orang akan berdiri
    mutlak sebagai pribadi di hadapan-Nya selaku Maha Hakim,
    dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak akan menghamba
    kecuali kepada-Nya saja semurni-murninya, dan juga hanya
    kepada-Nya saja kita memohon pertolongan karena menyadari
    bahwa kita sendiri tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk
    menemukan kebenaran.

    Dalam peneguhan hati bahwa kita tidak menghambakan diri
    kecuali kepada-Nya serta dalam penegasan bahwa hanya
    kepada-Nya kita mohon pertolongan tersebut, seperti dikatakan
    oleh Ibn ‘Atha’ Allah al-Sakandari, kita berusaha
    mengungkapkan ketulusan kita dalam memohon bimbingan ke arah
    jalan yang benar. Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan bahwa
    kita tidak dibenarkan mengarahkan hidup ini kepada sesuatu
    apapun selain Tuhan, dan ketulusan berbentuk pelepasan
    pretensi-pretensi akan kemampuan diri menemukan kebenaran.
    Dengan kata lain, dalam memohon petunjuk ke jalan yang benar
    itu, dalam ketulusan, kita harapkan senantiasa kepada Allah
    bahwa Dia akan mengabulkan permohonan.kita, namun pada saat
    yang sama juga ada kecemasan bahwa kebenaran tidak dapat kita
    tangkap dengan tepat karena kesucian fitrah kita terkalahkan
    oleh kelemahan kita yang tidak dapat melepaskan diri dari
    kungkungan kecenderungan diri sendiri.”Harap-harap cemas” itu
    merupakan indikasi kerendahan hati dan tawadlu’, dan sikap itu
    merupakan pintu bagi masuknya karunia rahmat llahi: “Berdoalah
    kamu kepada-Nya dengan kecemasan dan harapan! Sesungguhnya
    rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat baik.” [12].
    Jadi, di hadapan Allah “nothing is taken for granted,”
    termasuk perasaan kita tentang kebaikan dan kebenaran dalam
    hidup nyata sehari-hari. Artinya, apapun perasaan, mungkin
    malah keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran yang kita
    miliki harus senantiasa terbuka untuk dipertanyakan kembali.
    Salah satu konsekuensi itu adalah “kecemasan.” Jika tidak
    begitu maka berarti hanya ada harapan saja. Sedangkan harapan
    yang tanpa kecemasan samasekali adalah sikap kepastian diri
    yan mengarah pada kesombongan. Seseorang disebut sesat pada
    waktu ia yakin berada di jalan yang benar padahal sesungguhnya
    ia menempuh jalan yang keliru.

    Keadaan orang yang demikian itu, lepas dari “iktikad baiknya”
    tidak akan sampai kepada tujuan, meskipun, menurut Ibn
    Taymiyyah, masih sedikit lebih baik daripada orang yang memang
    tidak peduli pada masalah moral dan etika; orang inilah yang
    mendapatkan murka dari Allah.

    Maka diajarkan kepada kita bahwa yang kita mohon kepada Allah
    ialah jalan hidup mereka terdahulu yang telah mendapat karunia
    kebahagiaan dari Dia, bukan jalan mereka yang terkena murka,
    dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ini berarti adanya
    isyarat pada pengalaman berbagai umat masa lalu. Maka ia juga
    mengisyaratkan adanya kewajiban mempelajari dan belajar dari
    sejarah, guna menemukan jalan hidup yang benar. [13]

    Disebutkan dalam Kitab Suci bahwa shalat merupakan kewajiban
    “berwaktu” atas kaum beriman. [14] Yaitu, diwajibkan pada
    waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (Subuh),
    diteruskan ke siang hari (Dhuhur), kemudian sore hari (Ashar),
    lalu sesaat setelah terbenam matahari (Maghrib) dan akhirnya
    di malam hari (‘Isya). Hikmah di balik penentuan waktu itu
    ialah agar kita jangan sampai lengah dari ingat di waktu pagi,
    kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (Dhuhur) dan,
    lebih-lebih lagi, saat kita “santai” sesudah bekerja (dari
    Ashar sampai ‘Isya). Sebab, justru saat santai itulah biasanya
    dorongan dalam diri kita untuk mencari kebenaran menjadi
    lemah, mungkin malah kita tergelincir pada gelimang kesenangan
    dan kealpaan. Karena itulah ada pesan Ilahi agar kita
    menegakkan semua shalat, terutama shalat tengah, yaitu Ashar,
    [15] dan agar kita mengisi waktu luang untuk bekerja keras
    mendekati Tuhan.[16]

    V.30. SHALAT (2/2)

    Oleh Nurcholish Madjid

    Sebagai kewajiban pada hampir setiap saat, shalat juga
    mengisyaratkan bahwa usaha menemukan jalan hidup yang benar
    juga harus dilakukan setiap saat, dan harus dipandang sebagai
    proses tanpa berhenti. Oleh karena itu memang digunakan
    metafor “jalan,” [17] dan pengertian “jalan” itu dengan
    sendirinya terkait erat dengan gerak dan dinamika. Maka dalam
    sistem ajaran agama, manusia didorong untuk selalu bergerak
    secara dinamis, sedemikian rupa sehingga seseorang tidak
    diterima untuk menjadikan keadaannya tertindas di suatu negeri
    atau tempat sehingga ia tidak mampu berbuat baik, karena ia
    toh sebenarnya dapat pergi, pindah atau bergerak meninggalkan
    negeri atau tempat itu ke tempat lain di bumi Tuhan yang luas
    ini. [18] Dengan kata lain, dari shalat yang harus kita
    kerjakan setiap saat sepanjang hayat itu kita diajari untuk
    tidak berhenti mencari kebenaran, dan tidak kalah oleh situasi
    yang kebetulan tidak mendukung. Sekali kita berhenti karena
    merasa telah “sampai” pada suatu kebenaran, maka ia mengandung
    makna kita telah menemukan kebenaran terakhir atau final, dan
    itu berarti menemukan kebenaran mutlak. Ini adalah suatu
    kesombongan, seperti telah kita singgung di atas, dan akan
    menyangkut suatu kontradiksi dalam terminologi, yaitu adanya
    kita yang nisbi dapat mencapai kebenaran final yang mutlak.
    Dan hal itu pada urutannya sendiri, akan berarti salah satu
    dari dua kemungkinan: apakah kita yang menjadi mutlak,
    sehingga “bertemu” dengan yang final itu, ataukah yang final
    itu telah menjadi nisbi, sehingga terjangkau oleh kita! Dan
    manapun dari kedua kemungkinan itu jelas menyalahi jiwa paham
    Tauhid yang mengajarkan tentang Tuhan, Kebenaran Final
    (al-Haqq), sebagai Wujud yang “tidak sebanding dengan sesuatu
    apa pun juga” [19] dan “tidak ada sesuatu apapun juga yang
    semisal dengan Dia” [20]. Jadi, Tuhan tidak analog dengan
    sesuatu apa pun juga. Karena itu Tuhan juga tidak mungkin
    terjangkau oleh akal manusia yang nisbi. Ini dilukiskan dalam
    Kitab Suci, “Itulah Allah, Tuhanmu sekalian, tiada Tuhan
    selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah akan Dia;
    Dia adalah Pelindung atas segala sesuatu. Pandangan tidak
    menangkap-Nya, dan Dia menangkap semua pandangan. Dia adalah
    Maha Lembut, Maha Teliti.” [21]

    Begitulah, kurang lebih, sebagian dari makna surat al-Fatihah,
    yang sebagai bacaan inti dalam shalat dengan sendirinya
    menjiwai makna shalat itu. Adalah untuk doa kita yang kita
    panjatkan dengan harap-harap cemas agar ditunjukkan ke jalan
    yang lurus itu maka pada akhir al-Fatihah kita ucapkan dengan
    syahdu lafal Amin, yang artinya, “Semoga Allah mengabulkan
    permohonan ini.” Dan sikap kita yang penuh keinsyafan sebagai
    kondisi yang sedang menghadap atau tawajjuh (“berhadap wajah”)
    kepada Tuhan itulah yang menjadi inti makna intrinsik shalat
    kita.

    MAKNA INSTRUMENTAL SHALAT (ARTI SIMBOLIK UCAPAN SALAM)

    Shalat disebut bermakna intrinsik (makna dalam dirinya
    sendiri), karena ia merupakan tujuan pada dirinya sendiri,
    khususnya shalat sebagai peristiwa menghadap Allah dan
    berkomunikasi dengan Dia, baik melalui bacaan, maupun melalui
    tingkah laku (khususnya ruku’ dan sujud). Dan shalat disebut
    bermakna instrumental, karena ia dapat dipandang sebagai
    sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri.

    Sesungguhnya adanya makna instrumental shalat itu sangat
    logis, justru sebagai konsekuensi makna intrinsiknya juga.
    Yaitu, jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan
    menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kesehariannya, maka
    tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak
    pada tingkah laku dan pekertinya, yang tidak lain daripada
    dampak kebaikan. Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan itu
    merupakan kebahagiaan tersendiri yang tak terlukiskan dalam
    kata-kata, namun tidak kurang pentingnya ialah perwujudan
    keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa perilaku berbudi
    pekerti luhur, sejiwa dalam perkenan atau ridla Tuhan. Inilah
    makna instrumental shalat, yang jika shalat itu tidak
    menghasilkan budi pekerti luhur maka ia sebagai “instrumen”
    akan sia-sia belaka.

    Berkenaan dengan ini, salah satu firman Allah yang banyak
    dikutip ialah, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada
    engkau (hai Muhammad), yaitu Kitab Suci, dan tegakkanlah
    shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang kotor dan
    keji, dan sungguh ingat kepada Allah adalah sangat agung
    (pahalanya). Allah mengetahui apa yang kamu sekalian
    kerjakan.” [22] Dengan jelas firman itu menunjukkan bahwa
    salah satu yang dituju oleh adanya kewajiban shalat ialah
    bahwa pelakunya menjadi tercegah dari kemungkinan berbuat
    jahat dan keji. Maka pencegahan diri dan perlindungannya dari
    kejahatan dan kekejian itu merupakan hasil pendidikan melalui
    shalat. Karena itu jika shalat seseorang tidak mencapai hal
    yang demikian maka ia merupakan suatu kegagalan dan kemuspraan
    yang justru terkutuk dalam pandangan Allah. Inilah pengertian
    yang kita dapatkan dari firman Allah, (terjemahnya, kurang
    lebih) “Sudahkah engkau lihat orang yang mendustakan agama?
    Yaitu dia yang menghardik anak yatim, dan tidak dengan tegas
    menganjurkan pemberian makan kepada orang miskin! Maka
    celakalah untuk mereka yang shalat, yang lupa akan shalat
    mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan
    memberi pertolongan.” [23] Jadi, ditegaskan bahwa shalat
    seharusnya menghasilkan rasa kemanusiaan dan kesetiakawanan
    sosial, yang dalam firman itu dicontohkan dalam sikap penuh
    santun kepada anak yatim dan kesungguhan dalam memperjuangkan
    nasib orang miskin.

    Adalah hasil dan tujuan shalat sebagai sarana pendidikan budi
    luhur dan perikemanusiaan itu yang dilambangkan dalam ucapan
    salam sebagai penutupnya. Ucapan salam tidak lain adalah doa
    untuk keselamatan, kesejahteraan dan kesentosaan orang banyak,
    baik yang ada di depan kita maupun yang tidak, dan diucapkan
    sebagai pernyataan kemanusiaan dan solidaritas sosial. Dengan
    begitu maka shalat dimulai dengan pernyataan hubungan dengan
    Allah (takbir) dan diakhiri dengan pernyataan hubungan dengan
    sesama manusia (taslim, ucapan salam). Dan jika shalat tidak
    menghasilkan ini, maka ia menjadi muspra, tanpa guna, bahkan
    menjadi alasan adanya kutukan Allah, karena dapat bersifat
    palsu dan menipu. Dari situ kita dapat memahami kerasnya
    peringatan dalam firman itu.

    Dalam kaitannya dengan firman itu Muhammad Mahmud al-Shawwaf
    menguraikan makna ibadat demikian: Terdapat berbagai bentuk
    ibadat pada setiap agama, yang diberlakukan untuk mengingatkan
    manusia akan keinsyafan tentang kekuasaan Ilahi yang Maha
    Agung, yang merupakan sukma ibadat itu dan menjadi hikmah
    rahasianya sehingga seorang manusia tidak mengangkangi manusia
    yang lain, tidak berlaku sewenang-wenang dan tidak yang satu
    menyerang yang lain. Sebab semuanya adalah hamba Allah.
    Betapapun hebat dan mulianya seseorang namun Allah lebih
    hebat, lebih mulia, lebih agung dan lebih tinggi. Jadi, karena
    manusia lalai terhadap makna-makna yang luhur ini maka
    diadakanlah ibadat untuk mengingatkan mereka. Oleh karena
    itulah setiap ibadat yang benar tentu mempunyai dampak dalam
    pembentukan akhlak pelakunya dan dalam pendidikan jiwanya.

    Dampak itu terjadi hanyalah dari ruh ibadat tersebut dan
    keinsyafan yang pangkalnya ialah pengagungan dan kesyahduan.
    Jika ibadat tidak mengandung hal ini maka tidaklah disebut
    ibadat, melainkan sekedar adat dan pamrih, sama dengan bentuk
    manusia dan patungnya yang tidak disebut manusia, melainkan
    sekedar khayal, bahan tanah atau perunggu semata.

    Shalat adalah ibadat yang paling agung, dan suatu kewajiban
    yang ditetapkan atas setiap orang muslim. Dan Allah
    memerintahkan untuk menegakkannya, tidak sekedar menjalaninya
    saja. Dan menegakkan sesuatu berarti menjalaninya dengan tegak
    dan sempurna karena kesadaran akan tujuannya, dengan
    menghasilkan berbagai dampak nyata. Dampak shalat dan hasil
    tujuannya ialah sesuatu yang diberitakan Allah kepada kita
    dengan firman-Nya, “Sesungguhnya shalat mencegah dari yang
    kotor dan keji”, [24] dan firman-Nya lagi, “Sesungguhnya
    manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia
    banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak
    mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat…” [25]
    Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang menjalani
    shalat hanya dalam bentuknya saja seperti gerakan dan bacaan
    tertentu namun melupakan makna ibadat itu dan hikmah
    rahasianya, yang semestinya menghantarkannya pada tujuan mulia
    berupa gladi kepribadian, pendidikan kejiwaan dan peningkatan
    budi. Allah berfirman, “Maka celakalah untuk mereka yang
    shalat, yang lupa akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka
    yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan.” [26]
    Mereka itu dinamakan “orang yang shalat” karena mereka
    mengerjakan bentuk lahir shalat itu, dan digambarkan sebagai
    lupa akan shalat yang hakiki, karena jauh dari pemusatan jiwa
    yang jernih dan bersih kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha
    Agung, yang seharusnya mengingatkannya untuk takut kepada-Nya,
    dan menginsyafkan hati akan kebesaran kekuasaan-Nya dan
    keluhuran kebaikan-Nya.

    Para ulama membagi riya atau pamrih menjadi dua. Pertama,
    pamrih kemunafikan, yaitu jika perbuatan ditujukan untuk dapat
    dilihat orang lain guna mendapatkan pujian, penghargaan atau
    persetujuan mereka. Kedua pamrih adat kebiasaan, yaitu
    perbuatan dengan mengikuti ketentuan-ketentuannya namun tanpa
    memperhatikan makna perbuatan itu dan hikmah rahasianya serta
    faedahnya, dan tanpa perhatian kepada Siapa (Tuhan) yang
    sebenarnya ia berbuat untuk-Nya dan guna mendekat kepada-Nya.
    Inilah yang paling banyak dikerjakan orang sekarang. Sungguh
    amat disayangkan! [27]

    Demikian penjelasan yang diberikan oleh seorang ahli agama
    dari Arab, al-Shawwaf, tentang makna instrumental shalat.
    Dalam Kitab Suci juga dapat kita temukan ilustrasi yang tajam
    tentang keterkaitan antara shalat dan perilaku kemanusiaan:

    Setiap pribadi tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya
    Kecuali golongan yang beruntung (kanan)
    Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya,
    tentang nasib orang-orang yang berdosa:
    “Apa yang membawa kamu ke neraka?”
    Sahut mereka, “Dahulu kami tidak termasuk
    orang-orang yang shalat,
    Dan tidak pula kami pernah
    memberi makan orang-orang melarat
    Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena
    Dan kami dustakan adanya hari pembalasan
    Sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati).” [28]

    Maka, secara tegas, yang membuat orang-orang itu “masuk
    neraka” ialah karena mereka tidak pernah shalat yang
    menanamkan dalam diri mereka kesadaran akan makna akhir hidup
    ini dan yang mendidik mereka untuk menginsyafi tanggung jawab
    sosial mereka. Maka mereka pun tidak pernah menunaikan
    tanggung jawab sosial itu. Sebaliknya, mereka menempuh hidup
    egois, tidak pernah mengucapkan salam dan menghayati maknanya,
    juga tidak pernah menengok ke kanan dan ke kiri. Mereka pun
    lupa, malah tidak percaya, akan datangnya saat mereka harus
    mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka pada hari
    pembalasan (akhirat).

    Jika kita kemukakan dalam bahasa kontemporer, shalat –selain
    menanamkan kesadaran akan makna dan tujuan akhir hidup kita–
    ia juga mendidik dan mendorong kita untuk mewujudkan sebuah
    ide atau cita-cita yang ideal dan luhur, yaitu terbentuknya
    masyarakat yang penuh kedamaian, keadilan dan perkenan Tuhan
    melalui usaha pemerataan sumber daya kehidupan untuk seluruh
    warga masyarakat itu. Jika kita paham ini, maka kita pun paham
    mengapa banyak terdapat penegasan tentang pentingnya shalat,
    sekaligus kita juga paham mengapa kutukan Tuhan begitu keras
    kepada orang yang melakukan shalat hanya sebagai ritus yang
    kosong, yang tidak menghasilkan keinsyafan yang mendalam dan
    komitmen sosial yang meluas.

    CATATAN

    1. “Sungguh berbahagialah mereka yang beriman, yaitu
    mereka yang khusyuk dalam shalat mereka…” (QS.
    al-Mu’minun 23:1-2).

    2. Hadits, dikutip a.l. oleh Muhammad Mahmud al-Shawwaf,
    Kitab Ta’lim al-Shalah (Jeddah: al-Dar al-Su’udiyyah li
    al-Nasyr, 1387 H/1967 M), hal. 9.

    3. Ibid.,hal. 13

    4. Ibid., hal. 24

    5. Doa pembukaan shalat ini sesungguhnya kita warisi
    dari kalimat Nabi Ibrahim a.s. dengan sedikit perubahan
    (yaitu tambahan kata-kata musliman), yang dia ucapkan
    sebagai kesimpulan proses pencariannya terhadap Tuhan
    Yang Maha Esa, sekaligus pernyataan pembebasan diri dari
    praktek syirik kaumnya di Babilonia. (Lihat QS.
    al-An’am/6:79 dan penuturan di situ tentang bagaimana
    pengalaman pencarian Nabi Ibrahim sehingga ia
    “menemukan” Tuhan Yang Maha Esa, ayat 74-83).

    6. Seruan ini pun berasal dari Kitab Suci, berupa
    perintah Allah kepada Nabi kita agar mengucapkan seruan
    serupa itu, sebagai kelanjutan semangat agama Nabi
    Ibrahim. Diadopsi dengan sedikit perubahan, yaitu dari
    “wa ana awwal al-muslimin” (dan aku adalah yang pertama
    dari mereka yang pasrah) menjadi “wa ana min
    al-muslimin” (dan aku termasuk mereka yang pasrah).
    (Lihat QS. al-An’am/6:161-162).

    7. Lihat, a.l., QS. al-Baqarah 2:48, 123 dan 254.

    8. Ada sebuah hadits yang amat terkenal, yang banyak
    dikutip para ulama kita, berkenaan dengan penjelasan
    Nabi saw tentang arti Iman, Islam dan Ihsan. Ketika Nabi
    saw ditanya tentang Ihsan (al-ihsan), beliau menjawab,
    “Al-ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah
    engkau melihatNya; dan kalau pun engkau tidak
    melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau.”

    9. QS. al-Hadid 57:4

    10. QS. Thaha 20:14.

    11. QS. al-Baqarah/2:156.

    12. QS. al-A’raf/7:65.

    13. Dalam Kitab Suci banyak kita temukan perintah Allah
    agar kita mempelajari sejarah dan mengambil pelajaran
    daripada Kitab Suci itu. Lihat, a.l. QS. Ali
    ‘Imran/3:137.

    14. QS. al-Nisa’/4:103.

    15. QS. al-Baqarah/2:238.

    16. QS. al-Insyirah/94:7-8.

    17. Selain “shirath,” metafor jalan juga dinyatakan
    dalam beberapa kata baku lain dalam nomenklatur Islam,
    yaitu syari’ah, thariqah, sabil, minhaj dan mansak, yang
    kesemuanya bermakna dasar “jalan” atau “cara” (metode).

    18. Lihat QS. al-Nisa’/4:97.

    19. QS. al-Ikhlash/112:4.

    20. QS. al-Syura/42:11.

    21. QS. al-An’am/6: 102-3.

    22. QS. al-Ankabut/29:45.

    23. QS. al-Ma’un/107:1-~.

    24. QS. al-Ankabut/29:45.

    25. QS. al-Ma’arij/70:19-22.

    26. QS. al-Ma’un/107:

    27. Muhammad Mahmud al-Shawwaf, ‘Uddat al-Muslimin
    (Jeddah: al-Dar al-Su’udiyyah li al-Nasyr, 1388 H/1968
    M). h. 55-57.

    28. QS. al-Muddatstsir/74:38-47.

    Nah, dengan ini tugas saya telah selesai…

    ^.^

    Mhon mAv jika ada kesalahan dari saya…
    dan ada kata” yang kurang berkenan,,,
    saya mhon mav…
    karena kesempurnaan hanya pada Allah SWT ^.^

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

  36. Posted by Dewi Nuraeni(0801719) 1B on 29 November 2008 at 5:49 AM

    Assalamualaikum Wr Wb

    Yang saya rasakan selama ini, tutorial dapat memberikan semangat, motivasi, dan keyakinan untuk belajar lebih dalam mengenai islam. saya merasa nyaman dengan teteh2 mentornya yang baik dan ramah. kegiatan2 yang diadakan tutorial menambah pengetahuan dan pengalaman saya. namun ada kalanya saya merasa lelah dengan padatnya kegiatan yang harus diikuti. saran saya untuk kedepannya, mudah2an program tutorial semakin menarik, spy kami tidak merasa bosan.

    Wassalamualaikum Wr Wb

  37. Posted by Trisna Asih Awalia on 29 November 2008 at 6:55 AM

    Nama : Trisna Asih Awalia
    Kelas : 1A
    NIM : 08081714

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Program tutorial ini sangat bagus, karena saya dapat menambah pengetahuan tentang Islam khususnya. Selain itu kita dapat mempererat silaturahmi.Tapi mungkin karena waktunya 2 kali dalam satu minggu, jadi saya dan sebagian teman mahasiswa merasa keberatan. Karena sebagai tingkat 1 saya memiliki banyak tugas yg harus saya kerjakan. Kalau bisa tutorial hari minggu aja. Mohon dipertimbangkan. Terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Artikel

    Hubungan Hadis dan Al-Quran

    Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama –seperti definisi Al-Sunnah– sebagai “Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya.” Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada “ucapan-ucapan Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum”; sedangkan bila mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti yang dikemukakan oleh ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai bagian dari wahyu Allah SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban menaatinya dengan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu Al-Quran.

    Sementara itu, ulama tafsir mengamati bahwa perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang ditemukan dalam Al-Quran dikemukakan dengan dua redaksi berbeda. Pertama adalah Athi’u Allah wa al-rasul, dan kedua adalah Athi’u Allah wa athi’u al-rasul. Perintah pertama mencakup kewajiban taat kepada beliau dalam hal-hal yang sejalan dengan perintah Allah SWT; karena itu, redaksi tersebut mencukupkan sekali saja penggunaan kata athi’u. Perintah kedua mencakup kewajiban taat kepada beliau walaupun dalam hal-hal yang tidak disebut secara eksplisit oleh Allah SWT dalam Al-Quran, bahkan kewajiban taat kepada Nabi tersebut mungkin harus dilakukan terlebih dahulu –dalam kondisi tertentu– walaupun ketika sedang melaksanakan perintah Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan oleh kasus Ubay ibn Ka’ab yang ketika sedang shalat dipanggil oleh Rasul saw. Itu sebabnya dalam redaksi kedua di atas, kata athi’u diulang dua kali, dan atas dasar ini pula perintah taat kepada Ulu Al-‘Amr tidak dibarengi dengan kata athi’u karena ketaatan terhadap mereka tidak berdiri sendiri, tetapi bersyarat dengan sejalannya perintah mereka dengan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). Menerima ketetapan Rasul saw. dengan penuh kesadaran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa enggan dan pembangkangan, baik pada saat ditetapkannya hukum maupun setelah itu, merupakan syarat keabsahan iman seseorang, demikian Allah bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa’ ayat 65.

    Tetapi, di sisi lain, harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara hadis dan Al-Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini bahwa wahyu Al-Quran disusun langsung oleh Allah SWT. Malaikat Jibril hanya sekadar menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw., dan beliau pun langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya generasi demi generasi. Redaksi wahyu-wahyu Al-Quran itu, dapat dipastikan tidak mengalami perubahan, karena sejak diterimanya oleh Nabi, ia ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian disampaikan secara tawatur oleh sejumlah orang yang –menurut adat– mustahil akan sepakat berbohong. Atas dasar ini, wahyu-wahyu Al-Quran menjadi qath’iy al-wurud. Ini, berbeda dengan hadis, yang pada umumnya disampaikan oleh orang per orang dan itu pun seringkali dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Di samping itu, diakui pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa sahabat sudah ada yang menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada sekarang hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabi’in. Ini menjadikan kedudukan hadis dari segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud.
    Walaupun demikian, itu tidak berarti terdapat keraguan terhadap keabsahan hadis karena sekian banyak faktor — baik pada diri Nabi maupun sahabat beliau, di samping kondisi sosial masyarakat ketika itu, yang topang-menopang sehingga mengantarkan generasi berikut untuk merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya hadis-hadis Nabi saw.

  38. Posted by Frisca Febi Hidriany on 29 November 2008 at 7:19 AM

    Nama : Frisca Febi Hidriany
    Kelas : 1A
    NIM : 0805892

    Assalamualaikum wr wb
    komentar
    kegiatan Tutorial memang sangat banyak manfaatnya untuk mahasiswa UPI. Apalagi kegiatan ini berada di luar mata pelajaran. Akan tetapi, seperti kita ketahui mahasiswa tingkat 1 sangat banyak di jejeli tugas. Jadi kalau bisa kegiatan tutorial ini jangan kebanyakan waktunya, kalau bisa 1 minggu 1x saja kalau ga hari rabu, hari minggu. Tapi lebih baik hari rabu aja karena sekalian kita pulang kuliah, jadi ga cape bulak-balik. Mohon di pertimbangkan. wassalamualaikum wr wb.

    Artikel

    Awas!!! Pacaran = Mendekati Zina
    Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
    Janganlah Mendekati ZINA !!

    إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله e وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا وبعد،،

    Saudara-saudaraku kaum muslimin,
    Sesungguhnya sudah jelas firman Allah dalam Kitab-Nya dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. dalam Sunnahnya serta Ijma’ para Ulama tentang haramnya zina dan bahwasanya dia termasuk kekejian dan dosa besar.

    Tapi…, kita mendapati banyak kaum muslimin yang terjerumus ke-dalam jurang kekejian ini, mereka mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka, lupa kepada Allah dan laranganNya, lupa kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. dan sabdanya lupa kepada para Ulama dan nasihat-nasihatnya.. Sebagian mereka berusaha untuk menghalalkan zina dengan ta’wil-ta’wil yang bathil bahwa zina adalah perkosaan, sedangkan jika berdasarkan ’suka sama suka’ maka tidak mengapa… Sebagian mereka bahkan berusaha untuk menipu Allah- dan sesungguhnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri- dengan berpura-pura menikah dan berperan seakan-akan suami-istri, padahal si-wanita sudah punya suami di negerinya atau di tempat lain, dan yang pria hanya berniat memuaskan nafsunya untuk sementara waktu -naudzu billah-. Atau…, mereka berdalil dengan ucapan orang-orang Syiah yang bathil tentang kawin mut’ah yang mana tidak lain adalah penghalalan zina dengan berkedok agama !!!.

    Sungguh benar ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. :
    (ليكونن في أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف) صحيح الجامع 5466
    “Pasti akan ada dari ummatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khomer (minuman keras), dan alat-alat musik!.” (H.R. Bukhari.)

    Saudara-saudaraku kaum muslimin,
    Tidakkah anda ingat ucapan Allah Ta’ala dalam KitabNya yang mulya :

    ]وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً سورة الإسراء [ (سورة الإسراء 32)

    Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)

    Dalam tafsir Kalamul Mannan, Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di berkata : “Larangan Allah untuk mendekatii zina itu lebih tegas dari pada sekedar melarang perbuatannya, karena berarti Allah melarang semua yang menjurus kepada zina dan mengharamkan seluruh faktor-faktor yang mendorong kepadanya,”

    Maka bisa saya katakan, kalau jalan-jalan dan faktor-faktor yang menuju kepadanya saja dilarang apalagii perbuatannya!.

    Sungguh amat keji perbuatan itu dan sungguh amat benar ucapan Allah bahwa zina adalah Fahisyah yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman pula dalam tafsirnya : “Al Fahisyah adalah sesuatu yang dianggap sangat jelek dan keji oleh Syari’at, oleh akal sehat dan fitrah manusia, karena mengandung pelanggaran terhadap hak Allah, hak wanita, hak keluarganya atau suaminya, dan merusak kehidupan rumahtangga serta tercampurnya (kacaunya) nasab keturunan.”

    Dan sering sekali fahisyah di dalam Al-Qur’an ataupun Al-Hadits dimaksudkan dengan zina.

    Demi Allah sesungguhnya zina adalah dosa besar… dan bukan masalah kecil. Ibnu Mas’ud pernah bertanya tentang dosa-dosa besar kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Aku berkata : “Wahai Rasulullah.., dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?
    Beliau bersabda : “Engkau menjadikan bersama Allah sekutu yang lain, padahal Dia menciptakan kamu.”
    Dia (Ibnu Mas’ud) berkata : “Kemudian apa?”
    Beliau bersabda : “Engkau membunuh anak kamu karena khawatir dia makan bersama kamu.”
    Dia berkata :”kemudian apa?”
    Beliau bersabda : “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”
    Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. membacakan ayat (tentang sifat-sifat Hamba-hamba Allah Ar-Rahman) diantaranya Allah mengatakan:
    ]وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا*يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا [ ( الفرقان : 68-69)
    Artinya : “Yaitu orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina. Dan barang siapa melakukan yang demikian akan mendapatkan dosa, akan dilipat gandakan adzabnya pada hari kiamat dan kekal di dalamnya dengan terhina.” Al Qur’an Surat Al Furqan 68 – 69.
    Demikianlah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan farji (kemaluan). Beliau bersabda :

    (أكثر ما يدخل الناس النار الفم والفرج) رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه

    “Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)

    Maka pantaslah kalau tentang hal ini Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa dari pada zina,”
    Dan Ibnu Mas’ud berkata : “Tidaklah muncul riba dan zina pada suatu daerah kecuali Allah akan mengizinkan kehancurannya.”

    Maka jelaslah masalah buruknya zina, Allah mengatakan bahwa zina adalah perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk, Rasulullah bersabda bahwa zina adalah dosa besar yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, demikian pula para Ulama. Sedangkan akal sehat dan fitrah bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri.

  39. Posted by Apriyani Wulansuci on 29 November 2008 at 8:00 AM

    Nama : Apriyani Wulansuci
    NIM : 0804136
    Kelas : 1B

    Assalamu’alaikum Wr.Wb…

    Kegiatan-kegiatan tutorial di PGSD UPI Purwakarta ini sudah sangat baik. Bahkan mendengar dari cerita teman-teman di tingkat atas sepertinya kondisi tutorial saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
    Alhamdulillah…banyak ilmu yang saya dapatkan dari tutorial, mulai dari kuliah dzuhur, kuliah dhuha, mentoring, GSM, dan lain-lain. Pokoknya lengkap dech…and dahsyat banget..^_^ Selain dapat ilmu yang banyak, ukhuwah islamiyahnya juga terasa erat sekali. Walaupun masih banyak yang harus diperbaiki untuk kegiatan-kegiatan tutorial kedepannya, diantaranya :
    1) Saya harap pengurus tutorial bisa lebih tegas lagiterhadap mahasiswa tingkat 1, terutama masalah absen dan waktu, agar lebih disiplin. Jika perlu harusnya ada iqob untuk mahasiswa yang terlambat, baik itu pengurus, mentor, maupun mentinya.
    2) Acara-acara (isi acara) dalam kuliah dhuha dan mentoring lebih divariasikan lagi agar lebih berwarna dan tidak membosankan, misalnya : nonton bareng, bedah buku, talkshow,dll. O iya, ditambah rihlah juga dong,, ibrahnya kan bisa memperkuat ukhuwah antara mahasiswa tingkat 1.
    3) Kalo bisa kegiatan tutorial ditambah lagi, dengan program tahsin untuk tingkat 1, mabit minimal setiap 3 bulan sekali atau lebih baik lagi sebulan sekali, dan untuk akhwatnya adakan program keputrian dong. Karena itu juga penting, apalagi tahsin.
    4) O iya tutorial bikin kegiatan yang sasarannya untuk seluruh mahasiswa PGSD jg dong.. jangan buat tingkat 1 doank.
    5) Terakhir, untuk pengurus tutorial dan aqsha lebih kompak lagi ya!!! Soalnya sepertinya ikhwan dan akhwatnya kurang koordinasi nich.

    Oke, mungkin segitu dulu…syukron jazakallah khoir atas kesempatan yang diberikan.
    Afwan jiddan kalo ada kata-kata yang salah…
    SUKSES terus buat Tutorial dan Aqsha…
    Ikhwahfillah Keep Hamasah n Keep Istiqomah untuk dakwah and menciptakan PGSD UPI Purwakarta Futuh..Aamiin…
    SemangkA (Semangat karena ALLAH) !!! ^_^
    Wassalamu’alaikum. Wr.Wb..

  40. Posted by Apriyani Wulansuci on 29 November 2008 at 8:11 AM

    Nama : Apriyani Wulansuci
    NIM : 0804136
    Kelas : 1B

    Pacaran dalam Perspektif Islam

    Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
    Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
    Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
    Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
    Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
    Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : “Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah.” (HR Ahmad dan Abu Daud).
    Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: “Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya.” Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: “Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati.”
    Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba “berdalih” dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : “Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya.” Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi “dunia berpacaran” mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi “perahu pacaran” itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan “mencintai karena Allah” tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai “mencintai karena Allah ?” Jawabnya jelas tidak !
    In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q. S. Al Isra’ : 32)
    Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do’i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So….kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.
    Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.”(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
    Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (HR. Imam Bukhari Muslim).
    Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup auratnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (Q. S. An Nuur : 31).
    Dan juga sabda Nabi: “Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu.”(HR. Thabrany).
    Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA’ (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga’ punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur’an: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”
    Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

  41. Posted by Apriyani Wulansuci on 29 November 2008 at 8:13 AM

    Nama : Apriyani Wulansuci
    NIM : 0804136
    Kelas : 1B

    Assalamu’alaikum Wr.Wb…

    Kegiatan-kegiatan tutorial di PGSD UPI Purwakarta ini sudah sangat baik. Bahkan mendengar dari cerita teman-teman di tingkat atas sepertinya kondisi tutorial saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
    Alhamdulillah…banyak ilmu yang saya dapatkan dari tutorial, mulai dari kuliah dzuhur, kuliah dhuha, mentoring, GSM, dan lain-lain. Pokoknya lengkap dech…and dahsyat banget..^_^ Selain dapat ilmu yang banyak, ukhuwah islamiyahnya juga terasa erat sekali. Walaupun masih banyak yang harus diperbaiki untuk kegiatan-kegiatan tutorial kedepannya, diantaranya :
    1) Saya harap pengurus tutorial bisa lebih tegas lagiterhadap mahasiswa tingkat 1, terutama masalah absen dan waktu, agar lebih disiplin. Jika perlu harusnya ada iqob untuk mahasiswa yang terlambat, baik itu pengurus, mentor, maupun mentinya.
    2) Acara-acara (isi acara) dalam kuliah dhuha dan mentoring lebih divariasikan lagi agar lebih berwarna dan tidak membosankan, misalnya : nonton bareng, bedah buku, talkshow,dll. O iya, ditambah rihlah juga dong,, ibrahnya kan bisa memperkuat ukhuwah antara mahasiswa tingkat 1.
    3) Kalo bisa kegiatan tutorial ditambah lagi, dengan program tahsin untuk tingkat 1, mabit minimal setiap 3 bulan sekali atau lebih baik lagi sebulan sekali, dan untuk akhwatnya adakan program keputrian dong. Karena itu juga penting, apalagi tahsin.
    4) O iya tutorial bikin kegiatan yang sasarannya untuk seluruh mahasiswa PGSD jg dong.. jangan buat tingkat 1 doank.
    5) Terakhir, untuk pengurus tutorial dan aqsha lebih kompak lagi ya!!! Soalnya sepertinya ikhwan dan akhwatnya kurang koordinasi nich.

    Oke, mungkin segitu dulu…syukron jazakallah khoir atas kesempatan yang diberikan.
    Afwan jiddan kalo ada kata-kata yang salah…
    SUKSES terus buat Tutorial dan Aqsha…
    Ikhwahfillah Keep Hamasah n Keep Istiqomah untuk dakwah and menciptakan PGSD UPI Purwakarta Futuh..Aamiin…
    SemangkA (Semangat karena ALLAH) !!! ^_^
    Wassalamu’alaikum. Wr.Wb…..

  42. Posted by chintya septiani on 29 November 2008 at 10:42 AM

    NAMA : CHINTYA SEPTIANI
    KELAS : IA
    NIM : 0802072

    Assalamualaikum .wr .wb

    menurut saya program tutorial yang diadakan di kampus UPI Purwakarta sangat bermanfaat. karena dari situ kita bisa mendapatkan pencerahan dalam bidang rohani dan dapat mendekatkan diri kepada Allah . swt. tetapi dari sisi lain saya merasa terbebani oleh waktu yang ditetapkan dalam setiap adanya proses kegiatan tutorial ini. saya mohon kebijaksanaanya dalam menentukan waktu kegiatan agar lebih efisien. contohnya, dari program GSM kemarin, waktu yang di tetapkan sangat tidak memungkinkan bagi kami. khususnya untukpara akhwat. saya ingin agar waktu yang telah ditetapkan mendapatkan pertimbangan dari segi ketepatan waktu. agar tidak mengganggu aktivitas yang lain.

  43. NAMA: FAHRU RAUZI
    KELAS :1B
    NIM:0801640
    Asalamualaikum…
    Saya mau berkomentar tentang kegiatan tutorial, Menurut saya tutorial itu kegiatannya kebanyakan solnya ada kuliah dzuhur, kuliah ashar,mentoring pula?menurut saya mah kuliahnay satu aja kalau ga kuliah dzuhur ya ashar?tapi,program GSM subhanallah 10X…..program ituperlu dikembangkan bila perlu semua mahasiswa UPI purwakarta biar jadi orang-orang yang beriman amin ya robalalamin……..satu lagi saran saya tolong dong materi-materi dalam kuiahnya yang lebih menarik…..

  44. Posted by galih hadian erpan on 30 November 2008 at 5:05 AM

    assalamualaikum.wr.wb.
    tutorial memang adalah suatu kegiatan yang bagus, karna kita sebagai seorang muslim harus terus belajar dan belajar lagi karna menuntut ilmu itu wajib hukumnya dari kita lahir sampai kita meninggal. jadi tutorial ini merupakan suatu wadah untuk membentuk pribadi yang taqwa dan beriman sehingga kita bisa termasuk kedalam orang orang yang mendapat hidayah dari aAllah SWT. AAMIIN.
    sarannya agar kedepannya tutorial itu bisa lebih kumunitatif, jadi tutorial itu tidak boleh memaksakan kehendak sendiri, harus mendengar aspirasi para mahasiswanya. juga jangan saling menjelek jelekkan organisasi lain selama organisasi tersebut satu aqidah yaitu islam. terima kasih
    wasdalamualaikum wr.wb.

  45. Posted by yosi trimaharani on 30 November 2008 at 6:29 AM

    NAMA : YOSI TRIMAHARANI
    KELAS : 1 B
    NIM : 0803249

    Assalamuallaikum wr.wb……..
    kegiatan tutorial sangat bagus untuk diikuti. apalagi bagi saya yang masih merasa kurang dalam hal pengetahuan yang menyangkut masalah agama. tapi sesudah mengikuti kegiatan ini saya mendapatkan hikmah yang sangat membantu saya dalam menjalankan kehidupan sesuai syariat Islam. ya…walaupun sedikit demi sedikit.
    banyak hal yang belum saya ketahui, dapat saya ketahui di sini. sehingga tidak jarang saya berkata, “owh gtu yaaa…….saya baru tahu!!” memang sangat awam sekali. rasa terimakasih yang tak terhingga saya ucapkan kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tutorial ini. sekali lagi, thx a lot……….
    wassalamuallaikum wr.wb

  46. Posted by Vina Diana on 30 November 2008 at 6:38 AM

    NAMA : VINA DIANA
    KELAS : 1 B
    NIM : 0803296

    Assalamualaikum wr.wb
    Menurut saya kegiatan tutorial adalah kegiatan yang positif dan sangat bermanfaat bagi saya khususnya dan semua mahasiswa. Karena dengan mengikuti kegiatan tersebut kita dapat menambah pengetahuan tentang islam. Dan dengan mengikuti kegitan tutorial, kita dapat menjalin ukhwah islamiah.
    Saran saya terhadap kegiatan tutorial yaitu agar materinya yang lebih menarik lagi khususnya dalam kuliah dhuha. Agar kami tidak mengantuk.
    Wassalamualaikum wr.wb

  47. Posted by ochie on 30 November 2008 at 7:07 AM

    NAMA : YOSI TRIMAHARANI
    KELAS : 1b
    NIM : 0803249

    Assalamualaikum wr.wb
    kegiatan tutorial sangat bermanfaat bagi saya. kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan tentang agama yang memang belum banyak saya ketahui dan dapatkan. dan dalam kegiatan ini saya dapat mendapatkannya dan mengamalkannya dalam kehidupan saya. ya…walaupun sedikit demi sedikit. tapi itu sangat berpengaruh dalam langkah saya menuju kehidupan yang lebih baik lagi sesuai dengan syariat Islam. yang saya harapkan dapat mengantarkan saya menjadi muslimah yang berIMTAQ.
    saran saya…….
    semoga kegiatan ini dapat lebih terkonsep dengan baik dengan melihat sikon kami sebagai mahasiswa. dan saya sarankan untuk lebih memvariasikan kegiatan ini agar kami tidak merasa bosan….thx
    wassalamuallaikum wr.wb

  48. Posted by Vina Diana on 30 November 2008 at 7:17 AM

    NAMA : VINA DIANA
    KELAS : 1 B
    NIM : 0803296

    Assalamualaikum wr.wb

    Menurut saya kegiatan tutorial adalah kegiatan yang positif dan sangat bermanfaat bagi saya khsusnya dan bagi mahasiswa pada umumnya. Karena dengan adanya kegiatan tutorial, saya dapat menambah pengetahuan yang berhubungan dengan Islam. Kegiatan tutorial juga merupakan kegiatan yang menjalin ukhwah islamiyah yang baik antar sesama umat muslim.
    Saran saya terhadap kegiatan tutorial yaitu semoga kegiatan ini lebih menarik lagi agar kita lebih semangat lagi dalam mengikuti kegiatan tutorial ini. Thank’s….
    Wassalamuailaikum wr.wb

  49. Posted by nurhasanah on 30 November 2008 at 7:49 AM

    nama : siti nurhasanah
    kelas: 1B
    0801710

    Assalamu’alaikum wr.wb
    kalau menurut saya kegiatan tutorial itu sangat bagus karena merupakan sarana untuk mengkaji islam lebih dalam hanya sj waktu kegiatannya terlalu banyak, maksudnya bukan karena seringnya tapi… terkadang kita banyak tugas kuliah yang menyita waktu. Terus saran buat tutorial citra tutorial di tampilkan dengan sebaik mungkin walaupun menghadapi berbagai masalah yang ada sekarang jangan smapai terpancing dengan isu-isu yang sebenarnya gak bener. itu aja. makasih….

    Wassalam.

  50. Posted by desi aryani on 30 November 2008 at 8:17 AM

    Nama:Desi Aryani
    Kelas :1A
    Nim:0801648
    komentar:
    Assalammualaikum Wr.Wb
    Menurut saya tutorial upi purwakarta itu udah bagus banget koq.banyak keuntungan yamg bisa saya dapat dari kegiatan ini,,,dapat menambah pengetahuan saya tentang ilmu agama dan juga memberikan pengetahuan tentang cara pandang hidup kita dalam melaksanakan dan mengerjakan segala sesuatunya.misalnya saja dari hal-hal yang kecil seperti adab-adab pergaulan,adab-adab berpakaian dan lainnya.kegiatan ini memberikan pengaruh positif sama saya…bener dech.mungkin dari luar gak kelihatan tapi yang penting apa yang kita dapatkan bisa kita serap ke dalam hati nurani kita.
    semoga tutorial upi purwakarta bisa lebih berkembang dengan lebih baik lagi dan lebih menyenangkan dari acaranya juga jadwalnya…wassalammualaikum Wr.Wb

  51. Posted by Apriyani Wulansuci on 30 November 2008 at 9:02 AM

    Nama : Apriyani Wulansuci
    NIM : 0804136
    Kelas : 1B

    Assalamu’alaikum Wr.Wb…

    Kegiatan-kegiatan tutorial di PGSD UPI Purwakarta ini sudah sangat baik. Bahkan mendengar dari cerita teman-teman di tingkat atas sepertinya kondisi tutorial saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
    Alhamdulillah…banyak ilmu yang saya dapatkan dari tutorial, mulai dari kuliah dzuhur, kuliah dhuha, mentoring, GSM, dan lain-lain. Pokoknya lengkap dech…and dahsyat banget..^_^ Selain dapat ilmu yang banyak, ukhuwah islamiyahnya juga terasa erat sekali. Walaupun masih banyak yang harus diperbaiki untuk kegiatan-kegiatan tutorial kedepannya, diantaranya :
    1) Saya harap pengurus tutorial bisa lebih tegas lagiterhadap mahasiswa tingkat 1, terutama masalah absen dan waktu, agar lebih disiplin. Jika perlu harusnya ada iqob untuk mahasiswa yang terlambat, baik itu pengurus, mentor, maupun mentinya.
    2) Acara-acara (isi acara) dalam kuliah dhuha dan mentoring lebih divariasikan lagi agar lebih berwarna dan tidak membosankan, misalnya : nonton bareng, bedah buku, talkshow,dll. O iya, ditambah rihlah juga dong,, ibrahnya kan bisa memperkuat ukhuwah antara mahasiswa tingkat 1.
    3) Kalo bisa kegiatan tutorial ditambah lagi, dengan program tahsin untuk tingkat 1, mabit minimal setiap 3 bulan sekali atau lebih baik lagi sebulan sekali, dan untuk akhwatnya adakan program keputrian dong. Karena itu juga penting, apalagi tahsin.
    4) O iya tutorial bikin kegiatan yang sasarannya untuk seluruh mahasiswa PGSD jg dong.. jangan buat tingkat 1 doank.
    5) Terakhir, untuk pengurus tutorial dan aqsha lebih kompak lagi ya!!! Soalnya sepertinya ikhwan dan akhwatnya kurang koordinasi nich.

    Oke, mungkin segitu dulu…syukron jazakallah khoir atas kesempatannya…
    Afwan jiddan kalo ada kata-kata yang salah…
    SUKSES terus buat Tutorial dan Aqsha…
    Ikhwahfillah Keep Hamasah n Keep Istiqomah untuk dakwah and menciptakan PGSD UPI Purwakarta Futuh..Aamiin…
    SemangkA (Semangat karena ALLAH) !!! ^_^
    Wassalamu’alaikum. Wr.Wb..

  52. Assalamualaikum wr.wb.
    Salam super.ikhwan wa akhwat…
    Punten numpang ngisi k0ment yeuh.
    Tutorial yg saya rasakan cukup bgus bwat mahasiswa.tidak hanya cuma mendngarkan ustad atw pemateri tetapi juga bercurhat ria,tukar pendapat keluh kesah. Wlaupun memaksa tp saya rasa cukup bgus bcoswot?.h3.. Yg namanya mahasiswa stau sy klw tdk dpksa pastinya mereka tdk mau.btul?¿.h3…

    buat para mentor atw panitia pngurus tutorial,klo memang btuh tmpat curhat sbnrnya kami siap u/ mendngarkan,tp jngn mlebar u/ menjelek2an yg lain,biarkn ja mreka yg mnilai.kan udah mahasiswa udh tau mana baik mana tidak baik.insyallah
    trims…

  53. Posted by Dede Awaludin Syarif on 30 November 2008 at 11:47 AM

    Nama : Dede Awaludin Syarif
    Kelas: 1 B

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Tutorial bagi saya sedikit banyaknya telah menuntun saya dalam merubah akhlaq ke arah yang lebih baik. Selain itu juga memberikan wawasan keislaman yang lebih luas, sehinnga memotivasi saya untuk lebih mendalami Islam. Hanya saja kegiatan Tutorial ini kurang mengefisienkan waktu.
    Semoga Tutorial menjadi lebih baik lagi. Amin.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  54. Posted by Yulliati Annisa on 1 Desember 2008 at 4:13 AM

    Assalamualakium wr.wb
    Subahanallah, kampus UPI PWK gak ada duanya dech^_^. Soalnya kegiatan2nya bikin kita(mahasiswa) jadi remaja Islam yang gaul abiezzzz.Intinya kegiatan2nya sgt bermanfaat bwat tmen2 mahasiswa yg pngtahuan agamanya tidak begitu dalam jd paham dan InsyaAllah dpt mengaplikasikan ke kehidupan sehari2. Salut dech bwat Tutorial UPI PWK.
    Saran saya………
    acaranya mungkin bisa lebih divariasikan spaya gak jenuh, dan jg soal GSM itu emang sich sya agak keberatan alnya kan acaranya malam,tp berhubung saya tidak punya solusi jadi ngikut aja dech.Semangat ya…………^_^.JANGAN LUPA SENYUM YA
    Wassalamualaikum wr. wb

  55. Posted by Nurul Apriyani on 1 Desember 2008 at 4:43 AM

    Nama Nurul Apriyani
    NIM 0802068
    Kelas 1 B
    Assallamu’alaikum wr.wb
    Menurut saya kegiatan Tutorial ini memang bener banget, bisa membuat seseorang yang tidak begitu mengerti agama menjadi semakin mengerti dan yang biasa tidak mengamalkan Ilmu menjadi berani untuk mengamalkan ilmu agamanya. Sebelum saya mengikuti kegiatan Tutorial, saya adalah orang yang minder sekali dengan pengetahuan agama yang saya miliki. Sebagain besar teman-teman saya di UPI Purwakarta ini, pengetahuan Agama Islamnya sudah sangat baik dibandingkan saya, Apalagi anak pesantren. Alhamdulillah, saya bisa menguikuti kegiatan tutorial di Kampus Purwakarta ini. Ternyata benar juga kegiatan GSM yang dilaksanakan Tutorial, sangat bagus dan menyentuh Qolbu. Tetapi kenapa ya…, saat ingin mulai mengikuti kegiatan Tutorial pasti ada sedikit rasa malesnya, padahal saya sangat membutuhkan Ilmunya dari Tutorial itu. Saya rasa mungkin karena kegiatan Tutorial terlalu banyak banget
    Untuk Kegiatan Tutorial jadwalnya terlalu banyak, bisa tidak ya…, di padetin jadwalnya menjadi satu hari aja ?. Kegiatan Ceramah ingin sekali yang biasa dilakukan oleh Tutorial seperti kuliah dhuha atau kuliah dzuhur cara penyampaiannya menggunakan metode GSM. Karena ceramah yang biasa-biasa saja, metode penyampaiannya kurang menarik konsetrasi saya, untuk memperhatikannya. Selain itu menggunakan metode GSM, membuat saya menjadi tidak mengantuk untuk memperhatikannya.

  56. Posted by emil mulyani salma 1b on 1 Desember 2008 at 5:06 AM

    assalamualaikum
    kegiatan tutorial ini memang sangat bermanfaat bagi kita semua karena menumbuhkan kesadaran diri akan pentingnya mempelajari agama islam. sedikit saran agar kegiatannya jangan terlalu padat dan agar kegiatan kegiatannya bervariasi.

  57. Posted by Rita Aprianti 1B on 1 Desember 2008 at 5:19 AM

    Nama : Rita Aprianti
    Kelas : 1B
    NIM : 0801641

    Assalamualaikum wr.wb

    Komentar saya tentang kegiatan Tutorial ini baik dan bagus. Dimana dengan kegiatan tutorial ini kita bisa menambah wawasan tentang Islam. Tetapi terkadang saya merasa jenuh dengan tutorial ini yang acaranya terlalu monoton kurangnya variasi. HArapan saya semoga kedepannya tutorial ini bisa lebih baik lagi.

  58. Posted by ratna sari dewi 1b on 1 Desember 2008 at 5:22 AM

    Nama : Ratna sari dewi
    KELAS : 1b
    NIM : 0805374

    Assalamualaikum wr.wb

    komentar saya tentang kegiatan tutorial ini yaitu baik dan bagus.Dalam kegiatan tutorial ini saya secara pribadi bisa lebih mengetahui tentang ilmu pengetahuan tentang islam dan bisa menambah wawasan tentang pengetuhan islami.Selanjutnya kalau menurut saya kegiatan tutorial lebih dikurangi kalau perlu seminggu sekali saja diadakan kegiatan tutorial ini.Terima kasih

    Wassalamualaikum.wr.wb

  59. Posted by Yunengsih 1b on 1 Desember 2008 at 5:32 AM

    Nama : Yunengsih
    Kelas : 1B
    NIM : 0801632

    Assalamualaikum wr.wb

    Komentar saya mengenai kegiatan tutorial ini adalah bagus karena dengan adanya kegiatan ini dapat menambah wawasan kita tentang islam.Juga kegiatan tutorial ini sebagai salah satu upaya untuk perbaikan diri kepada yang lebih baik.tapi terkadang kegiatan ini cukup membosankan juga karena kegiatannya tidak ada variasi atau bisa di bilang monoton.kemudian dalam masalah waktunya juga kegiatan ini terlalu padat,untuk itu saya pribadi sangat berharap ada keringanan.

    Wassalamualaikum wr.wb

  60. Posted by ratna sari dewi 1b on 1 Desember 2008 at 5:48 AM

    Nama : Ratna sari dewi
    Kelas : 1B
    NIM : 0805374

    Assalamualaikum wr.wb

    Komentar saya tentang kegiatan tutorial ini yaitu baik dan bagus.Dalam kegiatan tutorial secara pribadi saya dapat mengetahui lebih dalam ilmu pengetahuan tentang islam dan juga sudah menambah wawasan tentang pengetahuan islami.selanjutnya kalau menurut saya kegiatan tutorial ini lebih dikurangi waktunya kalau bisa sich seminggu sekali saja diadakan kegiatan tutorial ini.terima kasih

    wassalamualaikum wr.wb

  61. Posted by Rita Aprianti 1B on 1 Desember 2008 at 6:02 AM

    Nama : Rita Aprianti
    Kelas : 1B
    NIM : 0801641

    Assalamualikum wr.wb
    Komentar saya tentang kegiatanTutorial ini baik dan bagus. Dimana kita bisa menambah wawasan tentang Islam. Tetapi terkadang saya merasa bosan karena acaranya terlalu monoton kurangnya variasi. Dan harapan saya semoga kedepannya kegiatan Tutorial ini bisa lebih baik lagi.

  62. Posted by Nisa Riezqya F. on 1 Desember 2008 at 10:39 AM

    Assalamu’alaikum…
    Mnurut saya, tutorial tu bagus buat jaga ksehatan rohani, scara di sana dikasih banyak pngetahuan tentang Islam dan dibimbing sama kaka-kaka mentor yang pinter+baik supaya jadi muslim/muslimah sjati. Tapi kalo bisa kuliah dhuha+mentoring jangan hari Minggu, mungkin pas hari prkuliahn (antara Snin-Kamis) bakal lbih efektif buat qta ( qta???…..) ^_^”
    Sgitu aj_makasi ah…Wassalamu’alaikum

  63. Posted by NENDA ANDRALINA on 2 Desember 2008 at 2:55 AM

    Nama : Nenda Andralina
    Kelas : 1 A
    NIM : 0802101

    Komentar tentang TUTORIAL
    Tutorial merupakan suatu program keagamaan yang sangat bermanfaat bagi para Mahasiswa UPI Kampus Purwakarta, karena di dalamnya banyak dikaji berbagai materi keagamaan yang sebenarnya tidak dipelajari dalam jam mata Kuliah. Namun, saya sangat menyayangkan dengan waktu kegiatan tersebut yang tidak konsisten sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Dan saya pun mohon agar kegiatannya divariasikan agar tidak membosankan jika hanya dengan Ceramah – ceramah saja.

    Artikel Islami
    Jihad, Bukan Sekedar Perang
    Hampir dipastikan, istilah “jihad” merupakan salah satu konsep Islam yang sering disalahpahami, baik oleh kaum Muslim maupun pengamat Barat, yang umumnya mengartikan jihad dengan perang. Aksi kekerasan yang berpijak pada konsep jihad merupakan bentuk penyempitan makna jihad. Dalam aksi kekerasan seperti pemboman, selain telah mendistorsi makna jihad juga menimbulkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai syariat—seperti terbunuhnya wanita dan anak-anak. Kalangan “muslim radikal” lebih banyak memaknai jihad dengan perang dan segala bentuk kekerasan. Padahal, jihad memiliki makna yang luas, mencakup seluruh aktivitas yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

    Makna Jihad
    Secara bahasa, kata jihad terambil dari kata “jahd” yang berarti “letih/sukar”, karena jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat kata jihad berasal dari kata “juhd” yang berarti “kemampuan”, karena jihad menuntut kemampuan dan harus dilakukan sebesar kemampuan (Shihab, 1996: 501). Maududi mendefiniskan jihad sebagai mempertaruhkan hidup seseorang dan segala sesuatu yang dimilikinya untuk melenyapkan penguasaan manusia atas manusia dan menegakkan pemerintah yang tegak di atas syariat Islam. Dalam hukum Islam, jihad adalah segala bentuk maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dengan tujuan mencapai rida Allah Swt. Dalam pengertian luas, jihad mencakup seluruh ibadah yang bersifat lahir dan batin dan cara mencapai tujuan yang tidak kenal putus asa, menyerah, kelesuan, dan pamrih, baik melalui perjuangan fisik, emosi, harta benda, tenaga, maupun ilmu pengetahuan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. selama peroide Mekah dan Madinah. Selain jihad dalam pengertian umum, ada pengertian khusus mengenai jihad, yaitu memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam dan makna inilah yang sering dipakai oleh sebagian umat Islam dalam memahami jihad. Kesalahan memahami jihad yang hanya dimaknai semata-mata perjuangan fisik disebabkan oleh tiga hal. Pertama, pengertian jihad secara khusus banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih klasik senantiasa dikaitkan dengan peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer. Hal ini membuat kesan, ketika kaum Muslim membaca kitab fikih klasik, jihad hanya semata-mata bermakna perang atau perjuangan fisik, tidak lebih dari itu. Kedua, kata jihad dalam Al-Quran muncul pada saat-saat perjuangan fisik/perang selama periode Madinah, di tengah berkecamuknya peperangan kaum Muslim membela keberlangsungan hidupnya dari serangan kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya. Hal ini menorehkan pemahaman bahwa jihad sangat terkait dengan perang. Ketiga, terjemahan yang kurang tepat terhadap kata anfus dalam surat Al-Anfal ayat 72 yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al-Anfal [7]: 72).
    Kata anfus yang diterjemahkan dengan “jiwa”, menurut Quraish Shihab tidak tepat dalam konteks jihad. Makna yang tepat dari kata anfus dalam konteks jihad adalah totalitas manusia, sehingga kata nafs (kata tunggal dari anfus) mencakup nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga, dan pikiran. Kesalahan yang sama juga dialami oleh para pengamat Barat yang sering mengidentikkan jihad dengan “holy war” atau perang suci. Jihad yang didefinisikan sebagai perang melawan orang kafir tidak berarti sebagai perang yang dilancarkan semata-mata karena motif agama. Secara historis, jihad lebih sering dilakukan atas dasar politik, seperti perluasan wilayah Islam atau pembelaan diri kaum Muslim terhadap serangan dari luar. Oleh sebab itu, “holy war” adalah terjemahan keliru dari jihad. “Holy war” dalam tradisi Kristen bertujuan mengkristenkan orang yang belum memeluk agama Kristen, sedangkan dalam Islam jihad tidak pernah bertujuan mengislamkan orang non-Islam.

    Fakta sejarah menunjukkan bahwa ketika kaum Muslim menaklukkan sebuah negeri; rakyat negeri itu diberi pilihan masuk Islam atau membayar jizyah (semacam pajak) atas jasa kaum Muslim yang melindungi mereka. Pemaksaan agama Islam dengan ancaman tidak dikenal dalam sejarah Islam. Sama halnya dengan penyebaran Islam di Nusantara yang dilakukan oleh Wali Songo menggunakan jalur budaya, tidak menggunakan jalan peperangan. Munawar Chalil dalam buku Kelengapan Tarikh Nabi Muhammad Saw. mengutip pendapat Muhammad Abduh, Ibnul-Qayyim dalam Zaad Al-Ma’ad, dan Syeikh Thanthawi Jauhari, menyatakan bahwa orang-orang kurang mengerti, menyangka bahwa jihad itu tidak lain adalah berperang dengan kafir. Sebenarnya tidak begitu. Jihad itu mengandung arti, maksud, dan tujuan yang luas. Memajukan pertanian, ekonomi, membangun negara, serta meningkatkan budi pekerti umat termasuk jihad yang tidak kalah pentingnya ketimbang berperang.

    Bentuk-bentuk Jihad
    Menurut Ar-Raghib Al-Isfahani—sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab—jihad terdiri dari tiga macam, yaitu: (a) menghadapi musuh yang nyata, yaitu mereka yang secara jelas-jelas memerangi umat Islam, seperti kaum Quraisy yang mengerahkan segenap kemampuannya untuk memangkas keberlangsungan komunitas umat Islam, (b) menghadapi setan, dilakukan dengan cara tidak terpengaruh segala bujuk rayunya yang menyuruh manusia membangkang kepada Allah Swt., dan (c) melawan hawa nafsu, inilah jihad terbesar dan paling sulit. Nafsu yang ada pada tiap diri manusia selalu mendorong pemiliknya untuk melanggar perintah-perintah Allah Swt., dengan tetap setia menjalankan perintah-Nya, berarti umat Islam berjihad melawan hawa nafsu.
    Menurut Ibnu Qayyaim, dilihat dari segi pelaksanaannya, jihad dibagi menjadi tiga bentuk:
    Pertama, jihad muthlaq; perang melawan musuh dalam medan pertempuran. Jihad dalam bentuk perang ini mempunyai persyaratan tertentu, di antaranya perang harus bersifat defensif, untuk menghilangkan kekacauan serta mewujudkan keadilan dan kebajikan. Perang tidak dibenarkan bila dilakukan untuk memaksakan ajaran Islam kepada orang non-Islam, untuk tujuan perbudakan, penjajahan, dan perampasan harta kekayaan. Juga tidak dibenarkan membunuh orang yang tidak terlibat dalam peperangan tersebut, seperti wanita, anak kecil, dan orang-orang tua.

    Kedua, jihad hujjah; jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi kuat. Jihad dalam bentuk ini memerlukan seseorang yang punya kemampuan ilmiah tinggi yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah-sunnah Nabi serta mampu berijtihad.

    Ketiga, jihad ‘amm; jihad yang mencakup segala aspek kehidupan, baik bersifat moral maupun bersifat material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain di tengah-tengah masyarakat. Jihad seperti ini dapat dilakukan dengan pengorbanan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini juga bersifat berkesinambungan, tanpa dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, dan bisa dilakukan terhadap musuh yang nyata, setan atau hawa nafsu.

    Jihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Perang Badar, perang terbesar dan yang sangat menentukan bagi keberlangsungan komunitas Muslim. Kemenang kaum Muslim dalam Perang Badar, dengan jumlah yang sedikit melawan musuh yang berjumlah sangat banyak, memang dahsyat. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw. mengatakan bahwa Perang Badar adalah perang kecil dan perang besar adalah perang melawan hawa nafsu. “Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.”
    Dengan demikian, musuh nyata yang harus dihadapi dengan jihad adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang kini banyak menimpa kaum Muslim sebagai akibat dari keserakahan orang-orang yang tidak bisa berjihad melawan hawa nafsunya.

  64. Assalamualaikum wr.wb…
    Alhamdulillah,setelah mengikuti kegiatan tutorial saya mendapat banyak pengetahuan mengenai islam yang amat bermanfaat untuk diri saya.meskipun pada awalnya,saya merasa tak terbiasa dengan seabreg kegiatan disana,tapi saya tau itu semua semata mata untuk kebaikan saya.
    Makasih…..

  65. Assalamualaikum Wr Wb

    alhamdaulilah dengan mengikuti kegiatan tutorial di kampus saya mendapatkan banyak ilmu agam ayang saya belum dapatkan sebelumnya. sejujurnya saya menyadari awalnya saya berat melangkahkan kaki ini dari rumah ke kampus untuk mengikuti kegiatan.namun setelah saya menjalaninya dengan ikhlas lilahitaala semua itu berjalan dengan mudah.
    sukron
    Wassalamualaikum Wr Wb

  66. Assalamualikum Wr Wb

    alhamdulilah dengan mengikuti kegiatan tutorial saya mendapatkan pengetahuan menggenai islam yang bermanfaat bagi diri saya sendiri. meskipun awalnya saya tidak terbiasa dengan seabreg kegiatan di sana, namuan saya menjalaninya dengan ikhlas, karena itu semua semata-mata untuk kebaikan saya sendiri. makasih

    Wassalamualaikum Wr wb

  67. Posted by Nevilla Pantera S. on 2 Desember 2008 at 7:50 AM

    Assalamu’alaikum…
    Mmh,,,Tutorial itu…pko’nya bermanfaat bgt lah buat q,,apalagi mentornya jg asik2…
    Tapi tolong donk jangan ada kgiatan hari Minggu-nya y, ganti aja k hari laen…
    Makasih,.,Wassalamu’alaikum

  68. Posted by Agum Guniyafauzi 1b on 2 Desember 2008 at 8:06 AM

    Tugas Artikel Islam Agum G. 1b.

    WANITA
    Allah dalam merancang kehidupan ini selalu membuat semuanya menjadi seimbang, dalam artian ada dua dari sesuatu hal atau yang dikenal dengan berpasangan. Begitu pun halnya manusia sebagai khalifah di bumi ini, diciptakan berpasangan yaitu ada pria dan ada wanita. Berdasar pada sejarah Islam terdahulu, pada zaman Jahiliyah, wanita hanya dijadikan sebagai sebuah komoditas pemuas sesaat belaka tanpa pernah dihargai dan dihormati sebagaimana mestinya. Bahkan dikisahkan apabila ada seorang bayi wanita lahir maka akan langsung dikubur hidup-hidup. Na’udzubillahi min dzalik.
    Namun, setelah datangnya Islam melalui perantara Rasulullah SAW., para wanita memperoleh kembali harkat, derajat, dan kehormatan mereka sebagaimana fitrah yang telah Allah gariskan melalui berbagai cara, seperti dengan menutup aurat mereka. Dengan menutup auratnya, para wanita muslim telah menjaga sesuatu yang berharga dan bernilai yang telah dititipkan oleh Allah SWT pada mereka sekaligus menjaga pandangan dan fikiran para pria muslim dari hal-hal yang dilarang.
    Tetapi, pada realita saat ini yang sedang terjadi, para wanita yang mengaku muslimah malah sepertinya berlomba-lomba membuka apa yang seharusnya mereka tidak buka. Sepertinya ada pemahaman yang salah akan keadaan mereka saat ini, yaitu dimana mereka merasa aneh papabila tidak ikut mode sekarang yang jelas-jelas membuat mereka mempertontonkan auratnya. Kalaupun ada yang tertutup, tapi yang menutup itu bersifat ketat dan membentuk apa yang mereka miliki. Ada sebuah logika untuk hal ini, jika sesuatu yang kita coba untuk jual kemasannya telah rusak, maka nilai jual dari sesuatu itu akan berkurang atau bahkan mungkin tidak bernilai lagi. Itulah pemahaman saya akan kaum Hawa ( wanita ).
    Setiap orang pasti ingin dihargai dan dihormati, dan itu merupakan sesuatu yang manusiawi sekali. Namun dalam hal ini khususnya tentang wanita, mereka ingin dihargai dan dihormati, tapi pada tindakannya, mereka sendirilah yang tidak tahu bagaimana cara menghormati dan menghargai diri mereka sendiri dengan berpenampilan dan berperilaku yang tidak sepantasnya dan sesuai ajaran agama Islam, yang tidak hanya memberi dosa kepada mereka tapi juga pada pihak lain dalam hal ini pria.

  69. Posted by primanita s r 1b o8o1647 on 3 Desember 2008 at 5:54 AM

    tutorial sangat bagus di lakukan di upi kampus purwakarta terutama bagi saya yang ilmu agamanya masih kurang
    namun acaranya terlalau banyak dan menyita waktu hingga membosankan

    tolong di atur lagi saja waktu yang lebih pas

  70. Posted by primanita s r 1b o8o1647 on 3 Desember 2008 at 5:59 AM

    primanita s r
    1b
    o8o1647

    Kedatangan Dajjal, Imam Al-Mahdi dan Nabi Isa AS
    By mikyad

    1. Dajjal

    Dajjal adalah seorang manusia biasa, ia dinamakan demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebathilan atau dikarenakan ia menyembunyikan kekufurannya di hadapan manusia dengan kedustaan dan tipu dayanya terhadap mereka. Ada sejumlah hadits yang menjelaskan tentang sifat-sifat Dajjal

    Dalam Sahih Bukhori diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah memberikan khutbah di hadapan para sahabatnya, lalu beliau menyebutkan Dajjal.
    Beliau bersabda : “Aku benar-benar akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Tidak ada seorang nabi melainkan ia pernah memperingatkan kaumnya tentang masalah tersebut. Tetapi aku akan mengatakan kepada kalian suatu ucapan yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun sebelumku. Dia itu (Dajjal) picak (bermata sebelah) sedangkan Alloh tidaklah picak” (Sahih Jami’ shogir 3495/ Al-Bany)

    Dari Ibnu Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ” Ketika aku sedang tidur aku mengelilingi di Ka’bah?… (beliau menyebutkan bahwasanya ia melihat Nabi Isa bin Maryam, kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan sifat-sifatnya). Ibnu Umar berkata: Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang besar tubuhnya, berwarna merah, rambutnya pendek, matanya picak, seakan-akan matanya itu buah anggur yang mengambang, Mereka berkata: “Ini adalah Dajjal, manusia yang paing menyerupainya adalah Ibnu Quthn seorang laki-laki dari Bani Khuza’ah (Sahih Bukhori 13/90 dan Muslim 2/237).

    Dari Nawwas bin Sam’an RA, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda berkaitan sifat Dajjal: “Dia itu seorang pemuda, rambutnya pendek, matanya mengambang, seakan-akan aku menyerupakannya denga Abdul ‘izz bin Qathn” (Sahih Muslim 18/65)

    Dan ia dinamakan dengan Masihid Dajjal karena salah satu matanya, yaitu mata kanannya tertutup (picak). Ia akan keluar pada saat kaum muslimin sedang memiliki kekuatan besar dan keluarnya dia adalah untuk mengalahkan kekuatan tersebut.

    Hadits lainnya adalah hadits yang menjelaskan bahwa tertulis di antara dua matanya “Kaafir” atau “Kafara” sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW:
    “Sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis kaafir” (HR Bukhori 13/91 dan Muslim 18/59)

    Keluarnya Dajjal merupakan salah satu tanda kiamat kubro. Sebelum Dajjal keluar, manusia diuji dengan kemarau dan kelaparan, serta tidak turunnya hujan dan matinya pepohonan.

    Hadits lainnya menjelaskan tentang Dajjal yang akan keluar dari arah timur tepatnya dari negri Khurosan atau Syihristaan. Kemudia ia akan mengembara ke seluruh penjuru bumi. Ia akan memasuki setiap negeri kecuali Makkah dan Madinah karena para malaikan menjaganya.

    Dari Abu Bakar ash-Shidiq RA ia berkata: Rasulullah SAW menceritakan kepada kami tentang Dajjal, beliau bersabda: “Dajjal akan keluar dari negeri sebelah timur yang disebut Khurosan” (Tirmidzy 6/495)

    Dari Fatimah bin Qais RA; Dajjal berkata: “Maka aku keluar dan aku menelusuri seluruh negeri, aku tidak meninggalkan suatu negeri kecuali aku telah tinggal di dalamnya selam 40 hari. Kecuali kota Makkah dan Madinah. Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Setiap kali aku akan memasuki salah satu dari keduanya. Seorang malaikat akan menghalangiku dengan pedang terhunus. Dan di setiap pelosok negeri tersebut ada malaikat yang menjaganya” (Shohih Muslim 18/83)

    Hadits lainnya menjelaskan diantara shifat Dajjal lainnya yaitu ia akan mengaku dirinya sebagai tuhan dan ia akan melakukan hal-hal yang aneh untuk membenarkan pengakuannya dan menarik orang-orang agar menjadi pengikutnya.

    Rasulullah SAW bersabda:
    “Barangsiapa yang mendengar tentang kedatangan Dajjal, hendaklah ia menjauhinya. Demi Alloh sesungguhnya seseorang akan mendatanginya dan ia menyangka bahwa dirinya seorang yang beriman, lalu ia mengikutinya yang dapat menimbulkan berbagai syubuhaat” (Sahih Jami’ shogir 6301/ Al-Bany)

    Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa Dajjal tersebut akan datang sambil membawa neraka dan surga. Surganya adalah neraka, dan nerakanya adalah surga, dan ia memiliki sungai yang penuh dengan air, gunung dari roti. Ia akan menyuruh langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun dan menyuruh bumi untuk menumbuhkan beraneka macam tumbuhan maka tumbuhlah tanaman tersebut. Dan ia akan menempuh perjalanan dengan cepat, secepat air hujan yang ditiup angin, dan keanehan-keanehan lainnya (HR Muslim 18/65-66)

    Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Akan tetap ada dari umatku yang berjuang dalam haq dan eksis terus hingga hari kiamat. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Lalu pemimpin umat Islam saat itu berkata kepada Nabi Isa, ”Kemarilah dan jadilah imam dalam shalat kami”. Namun Nabi Isa menjawab, ”Tidak, kalian menjadi peminpin di antara kalian sendiri. Sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini”.

    Rasulullah SAW bersabda,”Nabi Isa masih tetap tinggal di bumi hingga terbunuhnya Dajjal selama 40 tahun, lalu Allah mewafatkannya dan dishalatkan jenazahnya oleh umat Islam. (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hiban, Al-Hakim dan dishahihkan oleh az-Zahabi)

    2. Imam Mahdi

    Ada banyak hadits yang menerangkan sosok Al-Mahdi itu dan merupakan kewajiban kita untuk mempercayainya sesuai dengan apa yang kita terima dari Rasulullah SAW, tanpa menafsirkan, mentakwilkan atau menolaknya.

    Al-Mahdi menurut hadits-hadits yang kita terima adalah sosok manusia yang Allah akan turunkan di akhir zaman, meski tidak ada riwayat yang memastikan kapan kejadian itu. Selain itu, dijelaskan bahwa beliau adalah merupakan ahli bait Rasulullah SAW.

    Untuk memastikan apakah dia benar Al-Mahdi yang dimaksud, ada ciri-ciri yang telah disebutkan, yang paling penting diantaranya adalah bahwa beliau akan mengisi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kerusakan.

    Diantara hadits itu antara lain :

    Dari Ibnu Mas`ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila tidak kekal dunia ini kecuali sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu hingga Dia mengutus seseorang dari aku atau dari ahli baitku, namanya sesuai dengan namaku dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan dan qisth sebagaimana dunia ini sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan al-Juur. (HR. At-Tirmizy dalam kitab Fitan dan haditsnya hasan shahih).

    Dijelaskan bahwa kedatangan Al-Mahdi ini sebelum turunnya Nabi Isa as. yang akan memberi petunjuk kepada banyak manusia dan menegakkan hujjah Allah SWT.

    Dari Ali bin Abi Tholib Ra ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: ” Al-Mahdi dari golongan kami, Ahlul Bait, Allah memperbaikinya dalam satu malam” ( (Musnad Ahmad 2/58 dan sunan Ibnu Majah 2/1367. Hadis ini ditashih oleh Al-Bani dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shogir 6/22)

    3. Nabi Isa

    Diantara tanda-tanda datangnya hari kiamat kubro adalah turnnya Nabi Isa as. Beliau akan menjadi muslimin atau bagian dari umat Islam, menghancurkan salib dan menghancurkan berhala. Karena risalah yang beliau bawa adalah risalah yang bersumber dari Allah juga.

    Namun turunnya beliau bukan sebagai nabi lagi karena setelah diangkatnya Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir, maka tidak ada lagi nabi yang turun ke bumi dengan membawa risalah dari langit.

    Karena itu Nabi Isa kedudukannya bukan sebagai Nabi lagi, tapi bagian dari umat Islam ini, berkitab suci Al-Quran, mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat menghadap ka’bah, puasa Ramadhan, berhaji ke Mekkah dan menjalankan syariat Islam yang kita terapkan saat itu.

    Semua keteragan itu kita dapatkan dari hadits-hatis Rasulullah yang sampai kepada kita, antara lain:

    Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, Nyaris akan turun kepada kalian putera Maryam (Nabi Isa as) menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib dan membunuh babi dan memungut jizyah dan memenuhi harta … (HR Muslim dalam kitab Iman bab turunnya Isa)

    Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Akan tetap ada dari umatku yang berjuang dalam haq dan eksis terus hingga hari kiamat. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Lalu pemimpin umat Islam saat iu berkata kepada Nabi Isa,”Kemarilah dan jadilah imam dalam shalat kami”. Namun Nabi Isa menjawab,”Tidak, kalian menjadi peminpin di antara kalian sendiri . Sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini”.

    Rasulullah SAW bersabda,”Nabi Isa masih tetap tinggal di bumi hingga terbunuhnya Dajjal selama 40 tahun, lalu Allah mewafatkannya dan dishalatkan jenazahnya oleh umat Islam. (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hiban, Al-Hakim dan dishahihkan oleh az-Zahabi)

    Untuk lebih dalamnya pembahasan ini, silahkan merujuk pada kitab An-Nihayah karya Ibnu Katsir. Juga buku Asyrotus-Saa’ah (Tanda-tanda kiamat) karangan Yusuf bin Abdulloh bin Yusuf Al Wabil serta An-Nihayah Fil Fitan Wal malahim (fitnah dan huru hara) karya Ibnu Katsir.

  71. Posted by Putri Willa Dastika on 3 Desember 2008 at 2:17 PM

    Nama: Putri
    Kelas: 1-B
    NIM: 0802100

    Assalamu’alaikum….

    Menurut saya kegiatan tutorial sangat bermanfaat dan dapat menambah wawasan buat semua mahasiswa. Karena dengan mengikuti tutorial sesuatu yang kita tidak tau menjadi tau, dan sesuatu yang kita tidak mengerti menjadi lebih mengerti. Banyak ilmu yang kita dapatkan selama mengikuti kegiatan tutorial terutama dalam hal keagamaan yang tidak kita dapatkan sedetail dalam kegiatan kuliah. Ditambah lagi pembawaan materi yang tidak membosankan, santai tapi serius. Materi yang dibawakan juga beragam tidak monoton dan up to date. Sehingga selain mendapat pengajaran, kita juga mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih.
    pokoknya TOP BGT!!!!
    Syukron ah,,,

    wassalamu’alaikum…..

  72. uda lma g update…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: